Dalil Haramnya Makan Daging BABI

Posted: 5 April 2009 in Ahkam, Halal Harom

Dalil Haramnya Makan Daging BABI

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary

PERTANYAAN :Ustadz, yang semoga Allah Ta’ala senantiasa menjagamu, saya ingin menanyakan beberapa hal ;
1. Bagaimana tinjauan Islam mengenai hukum memakan daging anjing dan babi ?

2. Sebagian orang beralasan bahwa alasan diharamkannya daging babi adalah karena adanya penyakit dan cacing pita didalamnya, sehingga dengan teknologi proses pemasakan yang tepat maka cacing pita tersebut bisa dihilangkan dan boleh dimakan. Bagaimana dengan pendapat tersebut ?
Jazaakumullaahu Khairan Katsiiran atas jawabannya.
dr.Abu Hana
http://kaahil.wordpress.com

serat-babi1

JAWABAN :
Anjing adalah binatang yang menjijikan, sehingga para ‘ulama sepakat akan keharaman memakan dagingnya dan tidak ada perselisihan yang dapat dianggap dalam hal ini.
Adapun dalil-dalil tentang keharamannya adalah :

1. Keumuman hadits : “Tiap-tiap yang bertaring dari binatang buas, maka memakan (dagingnya) adalah haram” (HR. Muslim no.1933 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu)

(1933) وحدثني زهير بن حرب. حدثنا عبدالرحمن (يعني ابن مهدي) عن مالك عن إسماعيل بن أبي حكيم، عن عبيدة بن سفيان، عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال (كل ذي ناب من السباع، فأكله حرام).
(1933) – وحدثنيه أبو الطاهر. أخبرنا ابن وهب. أخبرني مالك بن أنس، بهذا الإسناد، مثله.

2. Diriwayatkan dari Abu Zubair Radhiallaahu ‘anhu, ia berkata : “Saya bertanya kepada sahabat Jabir tentang uang hasil penjualan anjing, maka Beliau menjawab “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang keras dari hal tersebut”. (HR. Muslim no.1569)

(1569) حدثني سلمة بن شبيب. حدثنا الحسن بن أعين. حدثنا معقل عن أبي الزبير. قال: سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور؟ قال: زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك.

3. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiallaahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan pada suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Allah haramkan pula atas mereka uang yang didapat dari hasil penjualannya”. (HR. Abu Daud no.3488)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ أَنَّ بِشْرَ بْنَ الْمُفَضَّلِ وَخَالِدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَاهُمُ – الْمَعْنَى – عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ بَرَكَةَ قَالَ مُسَدَّدٌ فِى حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ بَرَكَةَ أَبِى الْوَلِيدِ ثُمَّ اتَّفَقَا – عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا عِنْدَ الرُّكْنِ – قَالَ – فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَضَحِكَ فَقَالَ « لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ ». ثَلاَثًا « إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمُ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ ». وَلَمْ يَقُلْ فِى حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الطَّحَّانِ « رَأَيْتُ ». وَقَالَ « قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ ».

Mengenai daging babi, juga tidak ada perselisihan di kalangan ahlul ‘ilmi tentang keharamannya. Berdasarkan Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat yang ketiga dan Al-Qur’an surat Al-An’am ayat yang ke 145.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan..” (QS. 5:3)

قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 6:145)

Alasan sebagian orang bahwa diharamkannya daging babi adalah karena sebatas adanya penyakit dan cacing pita didalamnya, sehingga jika dapat diatasi dan dihilangkan baik penyakit atau cacing pitanya menjadikan daging babi halal boleh untuk dimakan, ini adalah alasan yang tidak benar. Justeru memakan daging babi berdasarkan penelitian diduga kuat akan menimbulkan hal yang disebutkan tadi, dan ini tentu menambah kuat akan keharaman memakannya.
Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa daging babi itu adalah rijsun (kotor) dan yang rijsun adalah haram harus dijauhi.

(Lihat Ruuhul Ma’aani karya Al-Aluusi dan Ahkaamul Qur’an karya Ibnul Arabi).

Source:
http://kaahil.wordpress.com/2009/04/05/dalil-haramnya-makan-daging-babi/

About these ads

Komentar ditutup.