Antara PKS dan Ikhwanul Muslimin (IM)

Posted: 8 April 2011 in Bid'ah Hizbiyah, Demokrasi, Demonstrasi, Pemilu, Firqoh Ikhwanul Muslimin, Hizbiyah, Baiat, Ikhtilaf

Amat unik serta menarik jika kita mengikuti perkembangan partai yang mendambakan keadilan dan kesejahteraan ini. Sebuah partai yang menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai kiblatnya ini telah mengalami berbagai perubahan yang sangat signifikan. Padahal, usia partai ini tidaklah terlalu lama, baru tiga putaran pemilu.

Menjelang Pemilu 1999 misalnya, Dewan Syariah partai “Islam” ini, selaku lembaga yang bertugas membuat putusan agama untuk anggota dan simpatisan partai, mengeluarkan seruan kepada kader dan pendukungnya agar tak terjebak dalam kesibukan mencari pemilih. Sebab, partai ini didirikan bukan untuk mengejar kekuasaan, tapi guna kepentingan dakwah.

Jelang Pemilu 2004, Dewan Syariah partai “Islam” ini mengeluarkan seruan, yang terpenting dilakukan aktivis kader partainya adalah mengajak orang sebanyak-banyaknya memilih partai “Islam” ini. Soal dakwah urusan kemudian. Partai “Islam” ini pun mengalami perubahan dari sebuah partai idealis menjadi pragmatis. Tak heran, bila kemudian muncul pernyataan dari Wakil Sekjen Partai tersebut, bahwa partainya siap menerima anggota non-muslim untuk dijadikan anggota DPR dari partai “Islam”-nya. Bahkan, dikatakannya, bahwa partainya siap berkoalisi dengan partai apapun dan lembaga manapun.

Menghadapi Pemilu 2009 ini, Sekjen partai “Islam” ini, saat acara temu muka Tim Delapan partai “Islam” ini dengan sejumlah tokoh non-muslim Makassar, menyatakan bahwa untuk memenuhi target suara 20% dalam Pemilu 2009, partai “Islam” ini berhasrat merangkul semua suku maupun agama. Begitulah pergeseran perilaku politik partai yang didirikan para aktivis bercorak pemahaman Ikhwanul Muslimin ini.

Di tahun 2008 partai “Islam” ini mengadakan mukernas di Bali. Ada satu hal unik yang patut dicermati, yakni logo mukernas di Bali itu mirip pura (tempat ibadah umat Hindu). Konon, akibat logo ini, akhirnya mukernas menjadi tarik ulur.

Demikian juga dengan kasus Ahmadiyah yang pernah ramai dibicarakan. Kaum muslimin dibuat gerah oleh sekte sesat ini, sehingga berbagai nada protes dilayangkan kepada pemerintah agar Ahmadiyah dibubarkan. Akan tetapi berbeda dengan sikap PKS yang bertolak belakang dengan mayoritas kaum muslimin.

Rupanya, PKS kini tengah tumbuh sebagai partai yang lambat laun merambat menjadi liberal. Tidak berlebihan saya mengatakannya demikian, mengingat maneuver-manuver politik PKS yang bisa dibilang telah kelewat batas syari’at. Lihat saja buktinya dari perjalanan PKS selama tiga dekade ini sebagaimana yang saya ungkapkan di atas. PKS telah merangkul semua kalangan, bahkan semua agama dan ideology. Oleh karena itu, tidak salah jika PKS menamai dirinya sebagai Partai Kita Semua, artinya partai untuk semua golongan, agama dan ideology. Dan tidak sepenuhnya bisa disalahkan jika sebagian orang menyebut PKS sebagai Partai Keranjang Sampah (walau saya pribadi tidak menyukai bahasa seperti ini, tapi memang begitulah kenyataannya). Parah memang.

Apalagi secara halus PKS telah menyatakan sikap terbukanya (dan juga komprominya) terhadap lawan-lawan politiknya dari kaum apapun ketika mengatakan :

“Sejak Pemilu 2004 lalu kehadiran PKS telah diterima dengan baik oleh kalangan sekuler maupun nonmuslim sekalipun,” papar PKS.

“Terbukti PKS diajak berkoalisi oleh capres SBY-JK dan pemilih PKS ternyata sebagian adalah kalangan nonmuslim”.

Ditambah lagi dengan jargon-jargon kampanye legislatif yang lalu, seperti : “Memangnya PKS Bisa Hijau, Kuning, Biru, dan Merah; Jika untuk Indonesia yang Lebih Baik, Mengapa Tidak ?”. Apa artinya ? Bukankah hijau itu maknanya partai Islam, kuning maknanya partai Golkar, biru maknanya partai Demokrat, dan merah maknanya partai nasionalis sekuler (PDIP dan sebangsanya) ? Orang awam yang membacanya pun dengan cekatan akan menyimpulkan bahwa PKS adalah partai semua golongan, partai semua aliran, partai semua pemahaman, dan yang lainnya.

Apakah saya heran dengan perubahan PKS ke arah yang merusak ini? Tidak. Demi Allah saya tidak heran dibuatnya. Apalagi setelah kita mengetahui bahwa kiblat partai ini adalah Ikhwanul Muslimin serta bagaimana sikap para tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin terhadap kaum kuffar, khususnya Yahudi dan Nasrani. Disaat Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada kekafiran dan kaum kuffar, maka para tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) justru menampakkan sikap bersahabat dengan kaum kuffar tersebut.

Dalam kitab “Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh” (cet. Daarud Da’wah, tiga juz) yang ditulis oleh salah seorang pendiri dan tokoh besar IM yang bernama Mahmud ‘Abdul Halim, pada sub judul “Fii Qadhiyyati Falisthiin (Masalah Palestina)” (juz 1/hal. 409), ketika penulis berbicara tentang sebuah tim gabungan Amerika dan Inggris yang berkunjung ke negara-negara Arab untuk membicarakan masalah Palestina, dalam sebuah pertemuan di Mesir dengan tim tersebut, Hasan Al Banna (pimpinan IM) hadir sebagai wakil dari Pergerakan Islam dan menyampaikan sebuah ceramah, yang redaksinya adalah sebagai berikut (langsung terjemahan):

… Dan pembahasan yang akan kami sampaikan merupakan sebuah point yang simpel dari tinjauan agama, (akan tetapi) karena point ini mungkin saja tidak dipahami di dunia barat, oleh karena itulah saya ingin menjelaskan point ini dengan ringkas: maka saya ikrarkan bahwa permusuhan kita terhadap orang-orang Yahudi bukanlah merupakan permusuhan (atas dasar) agama, karena Al Quran yang mulia menganjurkan (kita) untuk bersahabat karib dan berteman dekat dengan mereka(*), dan (syariat) islam (sendiri) adalah syariat yang bersifat kemanusiaan sebelum menjadi syariat yang bersifat qaumiyyah (untuk kaum/bangsa tertentu), dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka (orang-orang Yahudi) serta menjadikan adanya kesesuian antara kita dan mereka, (Allah berfirman):

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS. Al ‘Ankabuut: 46)

Dan ketika Al Quran ingin membicarakan masalah orang-orang Yahudi, Al Quran membicarakannya dari segi ekonomi dan undang-undang (saja), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, …” (QS. An Nisaa’: 160)

Silahkan anda menilainya sendiri, apakah sikap mereka ini sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau malah menyelisihinya 180 derajat? Simak baik-baik firman Allah berikut ini yang menjelaskan tentang permusuhan antara umat Rasulullah dengan orang-orang kafir. Lalu bandingkanlah dengan sikap para tokoh panutan IM dan PKS di atas.

Allah berfirman (artinya), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka” (QS. Al Baqarah: 120)

Allah juga berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. An Nisaa’: 101)

Masih dalam kitab yang sama, “Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da’wati Wat Tarbiyyah” (hal. 163) penulis menukil ceramah Hasan Al Banna ttg beberapa kewajiban yang sangat ditekankan bagi media massa islam, di dalam ceramah tersebut dia berkata:

“Yang keempat: menetapkan suatu hakekat yang mulia dan agung yang pura-pura dilalaikan oleh banyak kalangan yang mempunyai tendensi tertentu dan mereka berusaha untuk mengaburkan dan menyembunyikan hakekat ini, yaitu: bahwa (agama) islam yang hanif (lurus) ini tidaklah memusuhi suatu agama (tertentu), atau memerangi ideologi (tertentu), serta tidak berbuat zhalim terhadap orang-orang yang tidak beriman (non muslim) sedikit pun, dan tidaklah ajaran islam (dianggap) membuahkan hasil (yang baik) sampai ajaran tersebut (mampu) menumbuhkan (dalam diri) suatu masyarakat yang yang setanah air perasaan cinta, keharmonisan, tolong-menolong dan kedamaian (di antara mereka) bagaimanapun berbedanya agama (yang) mereka (anut) dan bertentangannya ideologi (yang) mereka (yakini)”.

Dalam sebuah perayaan IM Hasan Al Banna mengundang beberapa tokoh dan pendeta Nashrani dan menempatkan tempat duduk mereka di antara orang-orang anggota IM, dan dalam kesempatan tersebut juga Hasan Al Banna menyampaikan sebuah pidato yang di dalamnya dia memanggil/menyebut orang-orang Nashrani dengan sebutan “Ikhwaaninaal Masiihiyyiin” (saudara-saudara kami yang beragama Nashrani), lihat kitab “Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da’wati Wat Tarbiyyah” (hal. 120).

Sedikit contoh di atas bisa memberikan kita sebuah pengetahuan, bahwa Ikhwanul Muslimin tidak menegakkan permusuhan atas kaum kuffar dan ideologi kuffar. Rupanya langkah ini diteladani juga oleh PKS. Mereka merekrut suara-suara kaum kuffar. Bahkan mengambil para legislative dari kalangan kuffar untuk wilayah-wilayah tertentu, padahal di wilayah tersebut ada kaum muslimin, walau sebagai minoritas. Mereka berkilah, bahwa langkah yang demikian merupakan siasat politik Islam. Allahulmusta’an.

Apa yang dipaparkan di atas merupakan contoh sikap IM kepada orang-orang kuffar yang kemudian diteladani oleh PKS. Lalu bagaimana sikap IM terhadap kelompok-kelompok menyimpang? Barangkali contoh yang sedikit berikut ini bisa mengungkap kebatilan IM.

Berkata salah seorang tokoh IM yang terkenal, Muhammad Al Gazaaly dalam kitabnya “Difaa’un ‘anil ‘aqiidati wasy syarii’ati dhiddu mathaa’inil mustasyrikiin” (sebagaimana yang dinukil oleh tokoh IM lainnya, Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim dalam kitabnya “Mauqifu ‘ulamaa-il muslimiin minasy syii’ati wats tsauratil islaamiyyah” (Hal. 22): “Sesungguhnya jarak perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah adalah seperti jarak perbedaan antara mazhab fikih Abu Hanifah, mazhab fikih Malik, mazhab fikih Syafi’i … kami memandang semuanya sama dalam mencari hakekat (kebenaran) meskipun caranya berbeda-beda”.

Dalam kitab di atas (hal. 15) Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim menukil keterangan dari tokoh IM lainnya, Dr. Ishak Musa Al Husainy dalam kitabnya “Al Ikhwaanul Muslimuun kubral harakaatil islaamiyyatil haditsah” bahwa sebagian mahasiswa dari kalangan Syi’ah yang dulunya pernah belajar di Mesir telah bergabung dalam kelompok IM, sebagaimana barisan kelompok IM di Irak beranggotakan banyak orang dari kalangan Syi’ah “Al Imaamiyyah Al itsnai ‘asyariyyah”.

‘Umar At Tilmisaany dalam kitabnya “Al mulhamul mauhuub Hasan Al Banna ustaadzul jiil” (hal. 78, cet. Daarut tauzii’ wan nasyril islaamiyyah) berkata, “… Untuk tujuan mempersatukan kelompok-kelompok inilah Hasan Al Banna pernah menjamu Syaikh yang mulia Muhammad Al Qummy – salah seorang tokoh besar dan pentolan Syi’ah – di markas besar IM dalam waktu yang cukup lama, sebagaimana juga diketahui bahwa Imam Al Banna telah menemui seorang tokoh rujukan Syi’ah, Aayatullah Al Kaasyaany di sela-sela pelaksanaan ibadah haji tahun 1948 M, yang (pertemuan tersebut) menghasilkan kesesuaian paham antara keduanya, (sebagaimana hal ini) diisyaratkan oleh salah seorang figur IM saat ini yang sekaligus murid Imam Hasan Al Banna, yaitu Ustadz ‘Abdul Muta’aal Al Jabry dalam kitabnya “Limaadza ugtiila Hasan Al Banna”…”.

Lalu bandingkan dengan sikap PKS terhadap aliran sesat Ahmadiyah. Bandingkan juga dengan jargon-jargon kampanye legislatif yang lalu, seperti : “Memangnya PKS Bisa Hijau, Kuning, Biru, dan Merah; Jika untuk Indonesia yang Lebih Baik, Mengapa Tidak ?”. Ini menunjukkan bahwa PKS adalah sebuah partai yang tercampur-baur di dalamnya berbagai aliran keagamaan, tidak mempedulikan apakah dalam sebuah kelompok memiliki penyimpangan yang sangat fatal hingga mencapai tingkat kekufuran seperti Ahmadiyah. Semuanya direkrut oleh PKS yang mengikuti jejak dan suri tauladan pendahulunya, yakni Ikhwanul Muslimin.

Makanya, jangan merasa heran dengan berbagai manuver politik PKS yang seringkali menabrak batasan-batasan syari’at. Jika PKS mengambil orang-orang kuffar yang kemudian didudukkan di kursi kepemimpinan, maka jangan merasa heran karena memang begitulah keteladanan yang diambil PKS dari pendahulunya, yakni Ikhwanul Muslimin. Jika PKS mengatakan bahwa PKS bisa hijau, kuning, biru, merah, hitam dan berbagai corak lainnya yang menerangkan kepada kita bahwa PKS adalah partai untuk seluruh aliran keagamaan, pemikiran dan ideologi, maka jangan merasa heran juga karena begitulah yang dicontohnya dari pendahulunya, yakni Ikhwanul Muslimin. Bisa dibilang, bahwa PKS mengambil IM sebagai prototype dakwah dan politik. Sedangkan kita ketahui bersama, bahwa IM adalah sebuah firqah yang memiliki banyak penyimpangan dalam beragama. Bahkan, jika kita cermati secara seksama, lambang PKS adalah tulisan IM, akan tetapi telah disamarkan (huruf I dilambangkan dengan gambar padi yang ada di tengah. Sedangkan huruf M ditunjukkan dari gabungan antara gambar padi dan dua bulan sabit). Allahua’lam bish-showab.

Written by Aqil Azizi

https://almadinahpekanbaru.wordpress.com/2011/04/07/antara-pks-dan-ikhwanul-muslimin-im/

About these ads
Komentar
  1. Almadinah-Pekanbaru mengatakan:

    bismillaah..Link Al-Madinah Pekanbaru tidak dicantumkan disini kah?

    • abuyahya8211 mengatakan:

      SIAP akh! langsung ke TKP!! OK.. ^ ^
      jangan lupa ‘abu yahya al kadiry’ juga dicantumin ya!

  2. Almadinah-Pekanbaru mengatakan:

    saia sudah cantumkan. Oia, gak bikin banner kang? klu gak bisa, biar saia bikinin ya? Mau?
    Oia, antum bisa hubungi saia di nope 085265497092.

    • abuyahya8211 mengatakan:

      boleh koq, kalau ana mau di bikinkan banner..
      pernah coba buat, masih agak bingung..

      kalau via blog kesilitan, via facebook aja akh..

  3. Almadinah-Pekanbaru mengatakan:

    Aneh kang. Kode scriptnya kagak keluar.

  4. ijar mengatakan:

    idealis di tataran amal lebih baik drpda idealis skedar teori. Pernah memerangi yahudi secara langsung? IM pernah melakukannya. Klo mengkaji teori tanpa melihat fakta d lapangan apakah cukup untuk menyimpulkan suatu kebenaran, Allah menjadi saksi tuduhan2 tak mendasar seperti ini. Istighfarlah. . .

    • abuyahya8211 mengatakan:

      al ilmu qoblal qouli wal amal
      ilmu itu sebelum berkata dan beramal

      ya akhi, marilah kita dasari amal kita dengan ilmu yang shohih. apalah gunanya amal jika tanpa ilmu, itulah karakter orang2 yahudi, semangat beramal tanpa dasar ilmu. semoga kita diberikan kekuatan taufiq oleh Alloh agar senantiasa terbimbing di atas ilmu dan amal yang bermanfaat. aamiin…

      • Mustafa Jawab mengatakan:

        Nabi dan salafusholeh pun memerangi Yahudi…Kenapa salafi tidak? Katanya ngikut Nabi dan salfusholeh.

      • abuyahya8211 mengatakan:

        Dari mana anda tau salafy tidak memerangi yahudi ? ? ?

        Sesungguhnya ahlul kitab dan yang lainnya paling benci kepada seorang muslim yang istiqomah di atas jalan yang ditempuh oleh Nabi dan para Sahabat-Nya.
        Bukan seperti klaim sebagian orang/kelompok katanya membela Islam dan memerangi ahlul kitab, tetapi dalam prakteknya mereka JUSTRU MENEMPUH JALAN YANG DITEMPUH OLEH AHLUL KITAB, KEMUDIAN BERTERIAK MEMBELA ISLAM!! Allohul musta’an

  5. abu khair mengatakan:

    Dari pada antum sibuk mencari-cari kesalahan kaum muslimin yang berbeda cara dakwahnya, lebih baik energinya untuk membangun persatuan umat..

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Na’am akhi…
      Hendaknya kita senantiasa menjaga persatuan umat, TETAPI PERSATUAN YANG HAKIKI, PERSATUAN YANG DIBANGUN DIATAS AKIDAH DAN MANHAJ YANG HAQ, BUKAN PERSATUAN YANG SEMU, PERSATUAN YANG DIIKAT DENGAN HIZBIYAH, GOLONGAN, BENDERA, PARTAI, DLL.

      Jadi, AYO KITA MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN UMAT !!!

  6. afriastutik mengatakan:

    malah calon gubernur DKI Jakarta yg di usung oleh PKS sendiri,,anti tahlilan dan maulidan…

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Yang pasti ukuran atau barometer kita dalam ber-Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafusholeh

  7. amin mengatakan:

    ha…ha… trus gimana komentarnya tentang salafi mesir yang mendirikan partai ?

    • abuyahya8211 mengatakan:

      كُلٌّ يَدَّعِي وَصَلاً بِلَيْلَى … وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

      Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…
      Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…

      “Semua orang berhak mengaku sebagai salafy, namun boleh jadi salafy berlepas diri dari mereka”

      Betapa banyak mereka penyembah kubur jg mengklaim salafy…
      Betapa banyak mereka yg suka nge-bom jg mengklaim salafy…
      Betapa banyak mereka yg suka mengkafir2kan kaum muslimin jg mengklaim salafy…
      dll…

      SESUNGGUHNYA SALAFY BUKANLAH PERUSAHAAN MILIK GOL TERTENTU, BUKAN PULA ORGANISASI TERTENTU, TETAPI…
      SESUNGGUHNYA SALAFY ADALAH MEREKA2 YANG BERAGAMA SEBAGAIMANA BERAGAMANYA SALAFUSHOLEH

  8. Abu Royyan mengatakan:

    LUCU..katanya ANTI PARTAI TAPI IKUT PARTAI DI MESIR..katanya ANTI YAHUDI, TAPI DI MAKKAH malah DEKAT DENGAN AMERIKA..

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Afwan, SUDAH TERJAWAB DI KOMENTAR SEBELUMNYA;

      كُلٌّ يَدَّعِي وَصَلاً بِلَيْلَى … وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

      Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…
      Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…

      “Semua orang berhak mengaku sebagai salafy, namun boleh jadi salafy berlepas diri dari mereka”

      Betapa banyak mereka penyembah kubur jg mengklaim salafy…
      Betapa banyak mereka yg suka nge-bom jg mengklaim salafy…
      Betapa banyak mereka yg suka mengkafir2kan kaum muslimin jg mengklaim salafy…
      dll…

      SESUNGGUHNYA SALAFY BUKANLAH PERUSAHAAN MILIK GOL TERTENTU, BUKAN PULA ORGANISASI TERTENTU, TETAPI…
      SESUNGGUHNYA SALAFY ADALAH MEREKA2 YANG BERAGAMA SEBAGAIMANA BERAGAMANYA SALAFUSHOLEH

  9. udin mengatakan:

    wahai kader pks, perlajarilah perjuangan para nabi terdahulu
    - Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, memilih untuk menghancurkan patung (menegakkan tauhid dahulu) daripada ikut berburu bersama/berkoalisi bersama raja pada waktu itu.
    - Nabi Musa ‘alaihissalam, menyeru fir’aun untuk mentauhidkan Allah dahulu, daripada membentuk koalisi atau masuk sebagai anggota parlemen fir’aun.
    - Nabi Isa ‘alaihissalam, menyeru umat untuk mentauhidkan Allah dari pada bergabung dengan parlemen romawi.

  10. Mantan pks mengatakan:

    Akhirnya terbukti di 2013 partai ini adalah partai keranjang sampah…