Apakah Siksa Kubur di Bulan Ramadhan Dihentikan ?

Posted: 11 Agustus 2011 in Ramadhan & Syawal

Pertanyaan
Apakah bln ramadan siksa kubur berhenti, n apakah yg mengglng (meninggal-pen) di bln tdk d siksa, pdhl katax 7 langkah dr org yg mengantr jenazah langsng d siksa. Syukron.

Jawaban

Masalah adzab kubur dan kenikmatannya adalah perkara yang ghaib yang hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Tidak ada ruang ijtihad pribadi dan berpendapat. Kewajiban kita mengimani berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadis-hadis yang shohih. Setelah diteliti dalam berbagai kitab-kitab aqidah dan kitab-kitab hadis baik kutub sittah maupun tis’ah, kitab-kitab al-jawami’, kitab-kitab sunan, musnad, al-majami’, al-muwatho’, kitab-kitab al-ilal was su’alat, sampai kitab-kitab muskyilat wa ghoroibul hadis dan takhrij al-ahadits yang jumlahnya lebih dari 300 kitab (al-Maktabah asy-Syamilah al-Isdar 3.32), tidak ditemukan dalil dan riwayat yang shohih tentang diringankannya atau dihentikannya adzab kubur atau tidak diadzabnya orang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan.

Memang ada keterangan dalam Kitab “Bariqah Mahmudiyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyah wa Syari’ah Nabawiyah 1/427 dan Kitab Faidh al-Qodir 4/408 yang mengutip dari Kitab “Bahr al-Kalam” bahwa adzab kubur dihentikan setiap hari jum’at dan Bulan Ramadhan. Namun, pernyataan penulis “Bahr al-Kalam” ini tanpa disertai dalil. Al-Imam Ibnu Rajab dalam “Ahwal al-Qubur” 1/105 dalam sub judul “Hal yurfa’ al-‘adzab fi ba’di al-Auqat ‘an ahlil qubur” secara ringkas sekali menulis “terkadang adzab kubur dihentikan pada beberapa bulan yang mulia, telah diriwayatkan dari Anas bin Malik dengan sanad yang dho’if (lemah) bahwa adzab kubur atas orang yang meninggal dihentikan pada bulan Ramadhan, demikian pula fitnah kubur ditiadakan bagi orang yang mati pada hari Jum’at atau malam jum’at”. Ibnu Rajab sendiri menyebut riwayat yang berupa atsar (perkataan shahabat, bukan hadis Nabi) tersebut ternyata dho’if (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Demikian pula hadis yang diklaim diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang bertanya kepada Nabi tentang keutamaan tarawih di bulan Ramadhan, di antaranya disebutkan: Pada malam pertama Ramadhan, orang beriman dibersihkan dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya, pada malam kedua diampuni dosa kedua orangtuanya jika keduanya mukmin, –dst sampai–… dan pada hari dua puluh lima, Allah meniadakan adzab kubur darinya… Namun hadis ini pula adalah hadis palsu (maudhu’) yang tidak pantas dijadikan dalil dan hujjah dalam masalah ini (lihat Arsyif Multaqo Ahl al-hadits 1/6437 Al-maktabah asy-Syamilah).

Kesimpulanya:

tidak ada keterangan yang shohih yang mengaitkan adzab kubur dengan bulan Ramadhan.

Adapun tentang adzab kubur, Ibnul Qoyyim menyebutnya ada dua macam, yaitu pertama, adzab yang terus menerus bagi orang-orang kafir dan sebagian pelaku maksiat. Kedua adzab yang terputus (tidak terus-menerus) yaitu bagi orang yang ringan dosa/maksiatnya (lihat Faidh al-Qodir 4/309). Sebagai catatan juga; sepengetahuan kami, tidak ada keterangan dalil bahwa adzab kubur ditimpakan setelah langkah ketujuh dari pengantar jenazah, sebagaimana yang disebutkan oleh penanya.

Wallahu Ta’ala A’lam

http://abuazzamsyukri.blogspot.com/2010/08/siksa-kubur-di-bulan-ramadhan.html

About these ads
Komentar
  1. Eka mengatakan:

    Ustaz, sy mau tanya,,jk seseorg meninggal dunia smentara dia mpyai byx hutang,bkn tdk di byar semasa hdp”a tp dia kehabisan harta atau PAPA.. Apkah ada keringanan siksa kuburnya? Tlg d jwb. Makasih

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Bismillah..

      Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.

      PERINGATAN KERAS TENTANG HUTANG:

      Rasulullah  pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah  bersabda:
      يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

      “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no.1886, dari Abdullah bin Amr bin Ash ).

      Diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullah, dari Rasulullah , bahwa Beliau bersabda:
      « مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ »

      “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

      Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah  bersabda:
      « نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ »

      “Jiwa orang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah II/806 no.2413, dan At-Tirmidzi III/389 no.1078. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

      Dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah  bersabda:
      « مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ »

      “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham.” (HR. Ibnu Majah II/807 no: 2414. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

      Oleh karenanya hendaknya sebagai seorang muslim meskipun berhutang boleh2 saja. tetapi yang lebih utama adalah tidak bermudah2an dalam perkara ini.

      Dan hendaknya apabila keluarga yang ditinggalkan mampu melunasi hutangnya itu lebih baik, apabila tidak mampu kita kaum muslimin sudah sewajarnya apabila saling membantu untuk meringankan urusan saudaranya, atau bisa juga keluarga mendatangi yang punya piutang untuk minta pemutihan dengan menyampaikan segala udzurnya.

      wallohua’lam