HUKUM SHOLAT TAHAJUD dan DHUHA SECARA BERJAMA’AH

Posted: 12 Februari 2012 in Sholat, Adzan, Iqomah, masjid

حكم قيام الليل جماعة

Hukum Shalat Malam Berjamaah

السؤال:
مجموعة من الشباب تعودوا قيام الليل جماعة عند أحدهم مرة في الشهر فهل يجوز هذا

Pertanyaan, “Sejumlah anak muda telah terbiasa mengadakan shalat malam berjamaah di rumah salah satu dari mereka. Demikian itu dilakukan sekali dalam sebulan. Apakah hal ini dibolehkan?

الجواب
لا تشرع صلاة الجماعة في النافلة إلا ما أذن به الشرع الحنيف كصلاة التراويح ، وصلاة الاستسقاء ونحو ذلك

Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi, “Tidaklah disyariatkan shalat sunah dengan berjamaah kecuali yang diizinkan oleh syariat semisal shalat Tarawih dan shalat Istisqa.

ويجوز أحيانا أداء النافلة جماعة لكن بدون قصد لذلك ولا موعد ، وإنما جاء عرضا والدليل على هذا هو عمل الصحابة رضي الله عنهم وفهمهم الصحيح للدين

Dibolehkan namun kadang-kadang shalat sunah dengan berjamaah dengan syarat tanpa ada unsur kesengajaan dan tidak ada janjian terlebih dahulu. Jadi hal tersebut terjadi karena kebetulan. Dalil tentang hal ini adalah praktek para sahabat dan pemahaman para sahabat yang tentu saja merupakan pemahaman yang tepat terhadap ajaran agama.
Sumber:
http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/395-2010-02-25-13-32-13.html

http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah

http://abuayaz.blogspot.com/2011/01/hukum-shalat-tahajud-berjamaah.html#ixzz1m9mlRz34

—————————————————————————————————–

Hukum Shalat Dhuha Secara Berjama’ah

Ustadz bagaimana kualitas hadits ini ustad. Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik Radhiallahu’anhu tersebut, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah melakukan shalat Dhuha (subhata adh-dhuha) di rumahnya [rumah 'Itban bin Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan shalat beliau (fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi). (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari, 4/177).

Bisa sebagai hujah untuk shalat dhuha berjamaah tidak ustadz? Mohon penjelasannya ustadz. Terimakasih.

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Muhadi
Alamat: Boyolali, Surakarta
Email: hi_techxxxx@yahoo.com

———

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:

Riwayat ‘Itban bin Malik tersebut memang betul terdapat dalam Fathul Baari sebagai berikut.

Ada riwayat dari Imam Ahmad dari jalur Az Zuhriy, dari Mahmud bin Ar Robi’, dari ‘Itban bin Malik, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahnya, lalu para sahabat berada di belakang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengikuti shalat yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan[1]

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini dikeluarkan pula oleh Muslim dari riwayat Ibnu Wahb dari Yunus dalam hadits yang cukup panjang, tanpa menyebut “shalat Dhuha”.[2] Al Haitsami mengatakan bahwa para perawinya adalah perawi yang shahih.[3] Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sebagaimana syarat Bukhari-Muslim.[4]

Namun apakah hadits ini bisa sebagai dalil untuk melaksanakan shalat Dhuha rutin secara berjama’ah?

Alangkah bagusnya jika kita memahami terlebih dahulu bagaimana hukum melaksanakan shalat sunnah secara berjama’ah.

Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjama’ah ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan dua cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendirian (munfarid). Perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami  para sahabat di rumah ‘Itban bin Malik[5]; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu ‘Abbas.[6]

Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjelaskan hadits Ibnu ‘Abbas yang berada di rumah Maimunah dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau rahimahullah mengatakan,

Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara berjama’ah.”[7]

An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau rahimahullah mengatakan,

“Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama’ah. Namun pilihan yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat khusus seperti shalat ‘ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo’ (minta hujan), begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”[8]

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjama’ah. Syaikh rahimahullah menjawab,

“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti  shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu ‘Abbas[9]. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim[10], dan masih ada contoh lain semisal itu.”[11]

Namun kalau shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini diperbolehkan karena ada maslahah. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak yatim di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berjama’ah, beliau mengatakan,

Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang bertugas untuk memberi contoh pada umatnya, -pen).”

Kesimpulan:

  1. Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid (sendiri) dan lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731)

  1. Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyari’atkan secara berjama’ah seperti shalat tarawih.
  2. Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan secara munfarid dan boleh dilakukan secara berjama’ah namun tidak rutin atau tidak terus menerus, akan tetapi kadang-kadang.
  3. Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjama’ah seperti untuk mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjama’ah.

Wallahu a’lam bish showab.

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel UstadzKholid.Com


[1]Fathul Baari, 4/177, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

[2] Idem

[3] Majma’ Az Zawa-id, 2/278, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1412 H

[4] Lihat Ta’liq Syaikh Syu’aib Al Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad, Muassasah Qurthubah, Kairo

[5] Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.

[6] Al Maqsu’ah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jama’ah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits, Asy Syamilah.

[7] Fathul Baari, 3/421

[8] Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

[9] Hadits muttafaq ‘alaih.

[10] Hadits muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah ‘alal Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara berjama’ah 266 (658)

[11] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah

About these ads

Komentar ditutup.