Kesalahan-kesalahan Yusuf Qaradhawi

Posted: 15 April 2009 in FIRQOH, Firqoh Ikhwanul Muslimin

Penulis: Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al Udaini Al Yamani

Pernah Muhammad Bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjani berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Berat bagiku untuk mengatakan si fulan lemah, si fulan pendusta.” Maka berkata Al-Imam, “Jika kamu diam dan saya pun diam, bagaimana si jahil mengetahui yang benar dari yang salah.”

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata bahwa suatu hari datanglah Abu Turab An-Nakshsyabi menemui bapaknya ketika ia sedang mengatakan “si fulan lemah dan si fulan dipercaya” kemudian berkatalah Abu Turab, “Ya Syaikh, engkau mencela ulama, “maka bapaknya melihat kepada Abu Turab seraya berkata, “Celaka kamu, ini nasihat, bukan ghibah!”

Berkata Imam Abu Isa At-Tirmidzi, “Sebagian orang yang tidak paham telah mencela ulama hadits karena membicarakan orang”. Juga Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Sebagian orang yang tidak memiliki ilmu menyangka bahwa perbuatan itu adalah ghibah. Padahal tidaklah demikian, karena menyebutkan aib seseorang jika ada maslahatnya, walaupun sifatnya khusus, seperti tak ada perselisihan tentang bolehnya menolak persaksian seorang yang berdusta. Maka dalam hal ini kemaslahatan bagi kaum muslimin lebih diutamakan.” (Syarh Ilal oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, 1:43-44).

Biografi Yusuf Al Qaradhawi

Riwayat Singkat

Qaradhawi dilahirkan pada tahun 1926 M, menimba ilmu di Al-Makatib, Madrasah Ibtidaiyah dan Ma’had Diniy di Al-Azhar. Pemahaman akidahnya bersumber dari faham Asy’ariyah. Semenjak kecil sudah dijejali dengan kitab-kitab sufi, seperti kitabnya Al-Ghazali, Ibnu Ujaibah dan sebagainya. Oleh karena itu, ia tidak menentang faham tasawuf, sebagaimana pengakuannya.

Ketika masih remaja di bangku Ibtidaiyah, Qaradhawi bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan sangat terpengaruh oleh pemikiran Hasan Al-Banna, Muhammad Al-Ghazali, dan para pembesar Hizbul Ikhwan lainnya. Maka tidak heran jika kemudian dia menjadi salah satu pembesar di Hizbul Ikhwan di tahun-tahun terakhir.

Daftar Kebatilan Qaradhawi

1. Terkontaminasi pemikiran rasionalis di “Madrasah Hawaiyah” (madrasah yang dibangun atas dasar hawa nafsu), sehingga terkadang menolak hadits-hadits shahih dengan alasan tidak masuk akal, bertentangan dengan Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat dalam kitab Kaifa Nata’aamal Ma’as-Sunnah yang ditulisnya.

2. Tidak merujuk kepada pemahaman Salaf terhadap Al-Qur’an, bahkan ia memahaminya menurut hawa nafsunya. Tidak menghargai para ulama, tidak memperdulikan pendapat ulama, dan menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ulama, apabila bertentangan dengan hawa nafsunya.

3. Mengajak umat Islam untuk bermawaddah (berkasih sayang) dengan Yahudi dan Nasrani. Hal ini dituangkannya dalam berbagai kitab, koran dan majalah.

4. Berupaya mendekatkan kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka (Yahudi dan Nasrani). Hal ini dibuktikan dengan seringnya berpartisipasi dan hadir dalam berbagai muktamar Tauhidul-Adyan (penyatuan agama-agama) yang diadakan oleh Yahudi dan Nashara, kecuali muktamar di Sudan, ia tidak bisa hadir karena alasan pribadi.

5. Berpendapat bahwa jihad hanya untuk membela diri saja, bukan untuk ekspansi ke negeri-negeri kafir.

6. Menghormati tempat ibadah orang-orang kafir.

7. Mengkampanyekan “Perdamaian Dunia” tanpa letih dan bosan. (Maksudnya, kaum muslimin dibelenggu kebebasannya untuk berjihad dan membela harga dirinya dari penindasan orang-orang kafir dengan dalih perdamaian dunia, pent.)

8. Mempropagandakan positifnya keberagaman agama.

9. Mengadopsi pemikiran-pemikiran yang berasal dari orang-orang kafir, dan berusaha memolesnya dengan wajah Islami, seperti demokrasi dan pemilu.

10. Memutuskan suatu perkara sesuai dengan pendapat mayoritas jika terjadi perbedaan pendapat.

11. Memecah-belah kaum muslimin menjadi bermacam-macam thaifah, firqah dan hizib, serta mengingkari nas-nas yang melarangnya.

12. Berpendapat bahwa orang yang mengkritisi para penakwil dan pengingkar Asma’ wa Shifat Allah adalah lari dari perjuangan Islam, menolong musuh dan melemahkan barisan Islam.

13. Berusaha untuk mensalafkan Sufi dan mensufikan Salaf, serta mencampuradukkan keduanya.

14. Mencela dan merendahkan ulama Islam, serta memuji ahli bid’ah dan ahlul ahwa’.

15. Merayakan hari-hari besar bid’ah yang dia sendiri sudah tahu bahwa itu hanya taklid kepada orang-orang Barat.

16. Membolehkan nyanyian dan mendengarkan lagu-lagu yang didendangkan oleh artis laki-laki maupun perempuan. Bahkan terpesona dengan suara Faizah Ahmad dan menyenangi lagunya Fairuz.

17. Menyaksikan film sinetron di televisi dan video.

18. Berpendapat bahwa bioskop adalah sarana hiburan yang penting, halal dan baik.

19. Membolehkan penjualan beberapa barang yang haram bagi orang yang terasing di negeri kafir.

20. Berpendapat bahwa tidak masalah (boleh-boleh saja) menghadiri acara-acara yang didalamnya dihidangkan khamr, jika itu dilakukan demi maslahat dakwah!!!

21. Menyatakan bolehnya mempergunakan produk yang tercampur dengan daging, minyak dan lemak babi bila sudah diproses secara kimia, sebagaimana ia menghalalkan sesembelihan orang kafir selain Ahli Kitab.

22. Mengeluarkan fatwa dan makalah yang kontroversi, karena bekal ilmu haditsnya sedikit dan buruk.

Mengenai keadaan keluarga Qaradhawi, biarlah dia sendiri yang bercerita. Majalah Sayidatii no. 678, 11 Maret 1994 memuat wawancara dengannya. Sang wartawan bertanya kepadanya :”Sehubungan dengan izin yang Anda berikan kepada putri Anda untuk belajar di Universitas asing yang ikhtilath (bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan), apakah alasan Anda? ” Qaradhawi menjawab :

“Pertama, dia pergi bersama suami dan anaknya, dan di sana melahirkan dua orang anak.

Kedua, di Dirasah Ulya (magister) tidak ada dampak negatif yang timbul dari ikhtilath di sana, karena ia sibuk dengan tugas-tugas, makalah, laboratorium dan pelajarannya. Ketiga, yang paling penting ikhtilath pada dasarnya tidaklah haram. Karena yang diharamkan adalah khalwat, tabarruj, dan ikhtilath iltimas (bersentuhan), yaitu bersentuhan dan berdekatan. Adapun bila ia seorang murid wanita yang tergabung dalam sejumlah orang tanpa khalwat yang memalukan dalam berpakaian serta menjaga norma-norma Islam, ini tidaklah berbahaya.”

Kemudian Qaradhawi ditanya: “Lalu bagaimana dengan hobi anak-anak Anda?” Dia menjawab : “Tidak ada halangan bagi anak-anakku untuk mengembangkan bakatnya. Putraku punya hobi olahraga judo dan telah meraih sabuk hitam. Dia juga hobi berenang dan angkat besi. Aku juga mendukung mereka. Sementara putraku Abdurrahman, dia mempunyai hobi sastra. Dia adalah seorang penyair, pandai membaca syair, serta melantunkan dan mendendangkannya, (Qaradhawi tertawa).”

Kemudian sang wartawan bertanya, “Dimanakah dia belajar mengubah lagu dan nasyid?” Qaradhawi menjawab, “Ia belajar dari bakat dan sekolah musik. Dia punya banyak hobi.” Lanjutnya, “Anakku, Abdurrahman, kuliah di Darul Ulum, ia mempunyai teman-teman wanita. Dan mungkin saja, diantara teman-temannya telah menjadi kekasih hatinya. Dan Allah mengaruniakan rasa cinta kepada temannya. Semua ini dierbolehkan.”

Pembaca yang budiman, inilah yang bisa penulis ringkas dari sosok Qaradhawi. Setiap poin yang disebutkan sudah dibahas dalam bab-bab terdahulu, didukung dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang nyata.

==========

(Dikutip dari terjemah tulisan Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini Al Yamani dalam Kitabnya : Raf’ul-Litsaam ‘An Mukhaalafatil-Qaradhaawii Li Syarii’atil-Islaam. Kesalahan-kesalahan Yusuf Qaradhawi. Penerbit : Daarul-Atsaar, Yaman, cet. I 1421 / 2000)

Iklan
Komentar
  1. Komic berkata:

    Salam,

    benar kah itu?

    saya dan beberapa teman saya malah mengaguminya, tertama bukunya yangh berrjudul halal haram dan islam…

    tlong berikan penelaahan tentang buku itu, apakah benar atau batil?

    terima kasih

  2. neilzeid berkata:

    assalamu’alaikum wr wb
    afwan saudaraku sebelumnya, kebetulan saya lewat baca ini dan saya melihat banyak penilaian yang subjektif sebab saya melihat apa yang disampaikan disini hanya sepotong2 atau tidak menyeluruh sehingga seolah menyesatkan informasi yang sesungguhnya, sebaiknya mungkin ada tabayun yang jelas terlebih dahulu agar tidak terlena karena islam adalah sebelum segala sesuatu bukan jama’ah sebelum segala sesuatu. saya hanya muslim biasa yang sedikit mengenal tentang pergerakan. beberapa waktu lalu saya melihat laporan di metrofile yang banyak sekali pergerakan ditunggangi oleh orientalis agar saling beradu domba di indonesia mislanya kasus westerling sehingga munculnya islam radikal (baik tapi dipropaganda oleh kekuatan asing). saya melihat jama’ah salafiy ini juga baik tapi banyak mengutarakan hal yang membuat perpecahan di kaum muslimin. semoga bermanfaat. trims
    wassalamu’alaikum wr wb

    • abuyahya8211 berkata:

      Wa’alaykumussalam wr wb
      ya akhi fillah..

      ibarat kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.
      mungkin ungkapan itulah yang sekiranya pantas untuk antum.
      sekiranya antum dah kenal lebih dekat dengan manhaj salaf, subhanalloh.. betapa indahnya. karena inilah dakwahnya para Rosul, termasuk Nabi kita yang mulia…
      akhi, ana dapat merasakan apa yang antum rasakan. karena ana sebelum mengenal dakwah salaf juga merupakan aktifis di salah satu pergerakan. dan begitulah rata2 reaksi ana dan teman2 dahulu. tapi alhamdulillah ana tidak jumud dengan kebenaran. sehingga mendapati banyak pertentangan ana terus mengejarnya, dengan hati yang ikhlas dan tentunya dengan iringan do’a agar di berikan petunjuk untuk mendapatkan al-haq.
      meski pada awalnya sangat berat, tapi alhamdulillah akhirnya Alloh menetapkan hati ini di atas manhaj salaf, di atas assunnah, di atas pemahaman dimana para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in memahami agama ini.

      adapun penilaian tentang subjektif atau objektif?
      akhi, penilaian kita terhadap sesuatu perkara tidak akan terlepas dari manhaj/ prinsip dasar dalam memahami agama ini. karena manhaj ini akan melahirkan cara pandang di dalam memahami prinsip2 di dalam beragama ini. karena ini merupakan ushul yang akan di bangun prinsip2 islam yang lainnya.

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
      “Artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisa’: 115]

      Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu ’anha. “Artinya: Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku” [Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2450]

      Al-Uza’iy berkata: Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari’at hal.57]

      akhi fillah, teruslah belajar dan belajar, jangan pernah merasa jumud dengan ilmu. dan berdo’a semoga Alloh menunjukkan kepada kita al-haq. karena hakikat al-haq itu hanyalah satu.

      فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

      “Maka apakah setelah Al Haq itu kecuali kesesatan?” (Yunus: 32)

  3. masri berkata:

    saya kagum dengan keberanian kamu mengkritik seorang yang sangat dikagumi oleh umat Islam dunia, semoga kamu betul2 berada dijalan yang benar

    • abuyahya8211 berkata:

      AAMIIN..
      semoga Alloh memberikan kita hidayah di atas ISLAM dan di atas SUNNAH. Memahami islam ini di atas pemahaman yang benar sebagaimana yang dipahami para sahabat ridhwanalloh ‘alaihim ‘ajmain, Karena itulah jaminan keselamatan. Serta mendahulukannya di atas akal dan perasaan kita semata..