PERBEDAAN ANTARA KESURUPAN DAN WASWAS & PERBEDAAN ANTARA KERASUKAN DAN SIHIR

Posted: 1 Februari 2011 in Sihir dan Dukun

PERBEDAAN ANTARA KESURUPAN DAN WASWAS & PERBEDAAN ANTARA KERASUKAN DAN SIHIR

PERBEDAAN ANTARA KESURUPAN DAN WASWAS

Ditulis oleh Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad Al-Imam

Kesurupan dan waswas memiliki persamaan dan perbedaaan dalam beberapa perkara.

Persamaannya yaitu : Keduanya adalah cara syaitan menguasai manusia.

Perbedaan antara kesurupan dan waswas adalah sebagai berikut :

Pertama : Waswas bersifat lebih umum sedangkan kesurupan lebih khusus. Sebagian manusia memberikan waswas kepada sebagian yang lain. Para syaitan dari kalangan jin juga sebagiannya memberikan waswas kepada sebagian yang lain. Di samping itu, para syaitan juga memberikan waswas kepada manusia dan tidak ada seorang pun yang selamat dari waswas ini. Adapun kerasukan, hanya sedikit orang yang mengalaminya. Waswas merupakan bisikan halus. Adapun sihir dan kerasukan, maka manusia tidak mampu merasuki jin karena manusia tidak mampu menguasai jin dengan masuk ke dalam tubuhnya.

Kedua : Kerasukan muncul disebabkan penguasaan syaitan dari kalangan jin terhadap sebagian manusia, baik secara langsung dari jin itu sendiri maupun karena diutus oleh tukang sihir. Adapun waswas ini hanyalah persangkaan dan khayalan yang tidak benar.

Ketiga : Orang yang tertimpa waswas diperingatkan agar tidak menerima waswas tersebut. Sedangkan orang yang kerasukan dicegah dengan jalan memukul jin jika jin itu nampak, mencekik atau kadang-kadang mengikatnya sampai jin itu tidak bisa lari.

Keempat : Orang yang kerasukan, jika jinnya sudah keluar maka dia berdiri dalam keadaan dia tidak tahu apa yang telah terjadi, merasa gembira dan mengucapkan dzikrullah.

Kelima : Orang yang tertimpa waswas, pengobatannya adalah dengan cara memperdalam ilmu agama agar jiwanya tersibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat. Adapun orang yang kerasukan pengobatannya adalah dengan dibacakan Al Qur’an, diruqyah dan menghadap kepada Allah Subhaanahu wata’aala.

Alih Bahasa : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

PERBEDAAN ANTARA KERASUKAN DAN SIHIR

Ditulis oleh Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad Al-Imam

Setiap orang yang kena sihir, maka dia telah dirasuki dan tidak sebaliknya. Sebelum  menyebutkan perbedaan-perbedaaan antara sihir dan kerasukan, saya akan menyebutkan persamaan antara keduanya, sebagai berikut :

Pertama : Orang yang kerasukan dan terkena sihir keduanya disebabkan karena penguasaan syaitan pada keduanya.

Kedua : Orang yang kerasukan dan terkena sihir keduanya merasakan adanya gangguan jin secara umum.

Ketiga : Orang yang tertimpa kerasukan dan  sihir tidak memiliki obat yang lebih bermanfaat kecuali ruqyah yang syar’i. Ruqyah syar’i ini merupakan pengobatan yang paling manjur guna menangkal gangguan  jin dan setan.

Keempat : Sihir dan kerasukan bisa menimpa manusia secara umum, dan dapat memberi pengaruh pada akal, hati, badan, harta, keluarga dan teman-temannya baik dalam perkara dunia maupun agamanya.

Ke Lima : Kadang-kadang kerasukan dan sihir itu hanyalah persangkaan dan khayalan yang tidak ada wujudnya. Sebagian manusia hanya berprasangka bahwa dia kerasukan atau terkena sihir.

Semua perkara tersebut diatas dapat dialami oleh kedua jenis gangguan yaitu sihir dan kerasukan.

Adapun perbedaan antara kerasukan dan sihir, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama : Kerasukan terjadi karena penguasaan jin terhadap tubuh manusia yang merupakan ulah jin itu sendiri. Adapun sihir terjadi karena kesepakatan antara tukang sihir yang merupakan syaitan manusia bersama pelayannya, yaitu syaitan dari kalangan jin untuk menimpakan sihir kepada seorang manusia yang diinginkan oleh si tukang sihir. Jika seseorang terkena sihir, maka ini terjadi dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala.

Kedua : Kebanyakan sihir itu datangnya dari manusia yang ingin melakukan perlawanan antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain karena adanya permusuhan di antara mereka. Sedangkan kerasukan seringkali terjadi karena jin tersebut ingin melakukan balas dendam, rasa cinta yang dalam, atau hanya ingin mempermainkan orang tersebut atas keinginan jin itu sendiri.

Ketiga : Sihir terkadang datang dari tukang sihir itu sendiri atau atas permintaan seseorang agar tukang sihir tersebut menimpakan sihir pada orang lain dan permintaan ini dikabulkan oleh tukang sihir.

Keempat : Kebanyakan orang yang tertimpa kerasukan adalah orang yang lalai atau pelaku maksiat, sedangkan kebanyakan yang terkena sihir adalah orang-orang shaleh. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, pun tidak selamat dari sihir . (1)

Kelima : Jin yang diutus oleh tukang sihir kepada seorang manusia, jika si tukang sihir itu meminta agar jin tersebut keluar dari tubuh manusia, maka terkadang dia akan keluar karena dia adalah pelayan tukang sihir. Namun terkadang pula dia enggan untuk keluar karena membangkang kepada tukang sihir. Berbeda jika jin itu sendiri yang merasuki manusia, tukang sihir itu tidak berkuasa untuk menyuruhnya keluar, maka hati-hatilah  dari kecondongan (hati) kepada tukang sihir untuk mengeluarkan jin dari orang yang terkena sihir sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam risalah kami ” I’laamu Al Haairi Bi Hukmi Halli As Sihri A’laa Yadi As Saahir” yang menjelaskan tentang sejauh mana makar tukang sihir dan  syaitan terhadap orang yang datang kepada mereka.

Keenam : Terkadang jin yang menjadi pelayan tukang sihir itu ingin keluar dari tubuh orang yang terkena sihir, tetapi ia dicegah oleh tukang sihirnya  dan mengancam akan membunuh atau yang lainnya. Sehingga jin itu pun tidak bisa keluar kecuali jika Allah Subhaanahu wata’aala. menghendaki. Adapun jin yang masuk dengan cara merasuki manusia, jika  dia ingin keluar, maka dia akan keluar dengan izin Allah Subhaanahu wata’aala..

Ketujuh : Tingkat gangguan jin terhadap manusia yang dirasuki atau disihir itu berbeda-beda. Jin yang menjadi pelayan tukang sihir melakukan tugas-tugas sesuai dengan tuntutan tukang sihir walaupun terkadang apa yang dia lakukan itu sangat menyakitkan dan membahayakan seperti membunuh, membuatnya buta, atau lumpuh sehingga tidak bisa berjalan atau mengurungnya di rumah. Sedangkan syaitan yang masuk untuk merasuki manusia, berat dan ringannya rasa sakit yang dirasakan orang yang kerasukan adalah dari kehendak jin itu sendiri. Terkadang dia merasakan sakit yang berat dan terkadang juga ringan. Semua ini terjadi dengan izin Allah Subhaanahu wata’aala..

Catatan Kaki :

(1)Tentang tersihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalla,  yang dilakukan oleh Labid bin A’Sham diriwayatkan dari hadits-hadits yang shahih, diantaranya diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Aisyah radhiallahu anha. Namun perlu diketahui bahwa sihir tersebut tidak mempengaruhi akal beliau, dan tidak pula berpengaruh pada wahyu yang diturunkan kepadanya, namun hanya mempengaruhi fisik beliau, dimana beliau tidak mampu mendekati istrinya dalam kurun enam bulan lamanya. Lihat bahasan lengkap hal ini dalam kitab “meluruskan pemahaman tentang hadits sihir”, karya Abu Karimah Askari bin Jamal. (Pen).

Komentar
  1. Sunardi Sulaiman berkata:

    izin copy lagi ya ustaz