Kenapa Allah Ta’ala Menciptakan Manusia ada yang Baik dan ada yang Jahat?

Posted: 10 April 2011 in Taqdir, Tawakal, Hidayah

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Ustadz boleh minta batuan jawab pertanyaan seorang sahabat ana??,
Apakah Allah itu adil karena mengapa Allah menciptakan ada baik ada jahat, kenapa tidak baik semua?

Afwan tadi ditanya tapi tidak bisa menjawab, mohon bantuannya.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعدك

Saudara terhormat…semoga kita selalu dibimbing oleh Allah Ta’ala di dalam kebaikan.

Pertama: Hendaknya diketahui pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menyebabkan seseorang di dalam keragu-raguan yang tidak akan ada batasnya, dan yang menjadi kewajiban seorang muslim sebenarnya adalah mengimani takdir/ ketentuan Allah Ta’ala, baiknya ataupun buruknya.

Dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, coba perhatikan hadits berikut:

عن زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رضي الله عنه: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : “…أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ …”. رواه ابن ماجه

Artinya: “Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…(ketahuilah) bahwa apa saja yang telah ditakdirkan untukmu maka tidak akan meleset darimu dan apa saja yang tidak ditakdirkan untukmu maka tidak akan pernah mengenaimu”. (HR. Ibnu Majah)

Kedua: Perlu diketahui, bahwa para ulama menyatakan; bukan termasuk adab yang baik kepada Allah Ta’ala, jika dikatakan bahwa Allah Ta’ala menginginkan keburukan kepada hamba-hamba-Nya, meskipuan Allah-lah yang menciptakan dan mengadakan hal tersebut. Para ulama berdalil dengan Firman Allah Ta’ala:

(وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء:80] ،

Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. (QS. Asy Syu’ara: 80)

Di dalam ayat ini Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak mengatakan: “Dan jika Allah menjadikanku sakit”, tetapi beliau berkata: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”.

Begitu juga ketika Allah Ta’ala berfirman tentang Jin:

(وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَداً) [الجن:10]

Artinya: “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”. (QS. Al Jinn: 10)

Di dalam ayat ini, kata أُرِيدَ (dikehendaki), disebutkan dalam bentuk kata kerja mabni lil majhul, artinya tidak disebutkan pelakunya, hal ini dikarenakan sedang menyebutkan tentang keburukan dan kerusakan, adapun ketika menyebutkan tentang kebaikan, maka para jin menyandarkannya kepada Allah Ta’ala dan ini termasuk adab mereka kepada Rabb mereka.

Oleh sebab inilah Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.

Artinya: “Dan seluruh kebaikan berada di kedua tangan-Mu dan keburukan bukan kepada-Mu”. (HR. Muslim)

Jika ada yang berkata: “Kita melihat di sekitar kita ada yang sakit, ada yang berbuta maksiat, dosa dan keburukan-keburukan lainnya, bagaimana ini?”

Maka dijawab:

Pertama: Sesungguhnya seluruh perbuatan Allah adalah baik dan penuh dengan hikmah, tidak ada sekiditpun keburukan meskipun hal tersebut dirasakan buruk oleh sebagian makhluk, karena keburukan tersebut berasal dari sebab yang mereka kerjakan sendirin dan berdasarkan pilihan yang mereka pilih.

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]

Artinya: “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Asy Syura: 30)

Kedua: hal-hal buruk yang kita lihat, sesungguhnya itu adalah objek sebuah takdir Allah Ta’ala, atau lebih jelasnya kita katakan: “Kita dapati di sebagian makhluk menghasilkan keburukan seperti ular, kalajengking, penyakit-penyakit menular, penyakit-penyakit mematikan, kemiskinan, kemarau, banjir dan masih banyak yang lain. Seluruhnya itu, jika dilihat untuk manusia maka ia adalah sebuah keburukan, karena hal-hal tersebut tidak cocok dan buruk untuk manusia, akan tetapi jika dilihat bahwa hal tersebut adalah takdir Allah dan kekuasaan-Nya maka seluruh hal tersebut adalah baik, karena tidaklah Allah mentakdirkannya kecuali untuk sebuah hikmah, baik diketahui ataupun tidak hikmah tersebut oleh manusia.

Akan tetapi yang sebenarnya dituntut dari kita untuk mengimaninya adalah, bahwa hal-hal tersebut merupakan takdir Allah Ta’ala yang Maha Adil dan Maha Hakim (Bijaksana, meletakkan sesuatu pada tempatnya).

Dan ketahuilah bahwa Allah telah memberikan pengarahan kepada kita, untuk tidak memasukkan diri kita di dalam pertanyaaan-pertanyaan seperti ini dan hendaklah kita tunduk dan menyerahkan diri, tetapi tetap berusaha. Allah berfirman:

(لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ) [الأنبياء:23] .

Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. (QS. Al Anbiya’: 23)

Demikian jawaban singkat semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

Ahmad Zainuddin
Selasa, 1 Jumadal Ula 1432H
Dammam, KSA

Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

Iklan

Komentar ditutup.