Roh Gentayangan ? ?

Posted: 24 April 2011 in Dunia Jin dan Alam Ghaib

Masalah roh termasuk persoalan pelik dan hanya sedikit yang dapat dikuak, lantaran sedikitnya informasi yang dapat diperoleh tentang roh itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah , artinya: ”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.” (QS. Al Isrâ’: 85).Sebab itu, bila ada yang mengklaim mengetahui hal ihwal roh, maka perlu segera dipertanyakan, terlebih keyakinan yang masih melekat pada sebagian masyarakat tentang reinkarnasi, roh gentanyangan, roh penasaran, memanggil arwah dan lain-lain.

KEMANA ROH SETELAH BERPISAH DENGAN BADAN?

Ketika Malaikat Maut mencabut roh seseorang, maka roh itu berpindah ke alam barzakh, namun tempatnya berbeda-beda. Berikut perinciannya:

1. Roh para Nabi
Roh para Nabi berada di sisi Allah, di tempat yang tinggi. Dalilnya ucapan Rasulullah di saat akan wafat, ”Ya Allah! Susulkanlah aku ke rofiq a’lâ (para rasul yang berada di tempat yang tinggi).” (HR. Bukhârî no. 4436, Muslim no. 2191).

2. Roh para Syuhada (Orang yang Mati Syahid)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa roh para syuhada berada di surga. Banyak sekali dalil yang menetapkan demikian, di antaranya firman Allah, artinya:”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS. Âli ’Imrân: 169).

3. Arwah Anak-anak yang belum baligh
Mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka berada di surga. Bahkan Imam Ahmad menyatakan bahwa hal ini merupakan ijma’ (kesepakatan). Dalil yang mendukung pendapat ini adalah riwayat yang menceritakan ketika Ibrahim putra Rasulullah meninggal dunia, Rasulullah bersabda, ”Ibrahim adalah anakku, dia meninggal ketika masih menyusu, akan ada dua wanita yang menyempurnakan susuannya di surga.” (HR. Muslim: 2316). Sabdanya pula,“Anak-anak orang Mukmin ditanggung Nabi Ibrahim di surga.” (HR. Ibnu Hibbân 1826, dishahihkan oleh Al Albânî dalam Shahîhul Jâmi’ 3/155). Anak-anak orang musyrik dan kafir juga berada di surga, berdasarkan hadits,”….Adapun anak-anak yang berada di sekitar Ibrahim adalah anak-anak yang meninggal dalam keadaan fitrah. Sebagian sahabat bertanya, ”Wahai, Rasulullah! Apakah anak-anak orang musyrik (juga berada di sana?).” Beliau menjawab, ”Mereka juga di sana.” (HR. Bukhârî no. 6640 dan Muslim no. 2275).

4. Arwah Orang Mukmin Lainnya
Hal ini dipersilisihkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Imam Ahmad mengatakan, ”Arwah orang-orang Mukmin
berada di surga dan orang kafir berada di neraka.” Dalilnya firman Allah , artinya: ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu tetapi kamu tidak melihat. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar? Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam jahannam. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.” (QS. Al Wâqi’ah: 83-96).

MEMANGGIL ROH DAN REINKARNASI

Cerita tentang roh orang yang telah meninggal lalu kembali menitis ke salah satu anggota keluarganya, kemudian bertutur tentang nasibnya yang tidak tenang, disebabkan oleh keluarganya yang tidak pernah mempersembahkan
sesajian-sesajian kepadanya, adalah cerita yang sudah mutawatir dan banyak terjadi di masyarakat. Pertanyaannya adalah, ’benarkah itu roh orang yang telah meninggal?’

Untuk menjawabnya, kita cermati firman Allah berikut ini, yang artinya:

”(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya, Tuhanku! Kembalikanlah Aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu’minûn: 99-100).

Ibnu Katsir—rahimahullâh—dalam tafsirnya menjelaskan, ”Allah menginformasikan keadaan orang kafir dan orang yang
melalaikan perintah Allah ketika ajal mereka menjelang. Mereka memohon agar dikembalikan lagi ke dunia supaya memperbaiki amalan jeleknya ketika berada di dunia. Tetapi permintaan ini tidak dikabulkan oleh Allah. Mereka mengajukan permintaan ini kepada Allah ketika akan mati, hari kebangkitan, menghadap Allah dan ketika mereka terpanggang di api neraka.” (Tafsîr Al Qur’ânil ’Azhîm, 3/241).

Firman-Nya pula, artinya:

”Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan
kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya, Tuhan kami! Kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajadah: 12).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, ”Allah mengabarkan keadaan orang-orang musyrik pada hari kiamat. Ketika mereka melihat hari kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan nista dan hina dengan menundukkan pandangan lantaran malu, mereka mengatakan, ”Kami sekarang mendengar perkataan-Mu dan taat kepada perintah-Mu, kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal saleh.” Namun Allah I menjawab, (artinya):”Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari pada- Ku: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 13-14). (Lihat Tafsîr Al Qur’ânil ’Azhîm, 3/428).

Rasulullah pun telah bersabda,

”Arwah mereka (para syuhada) berada di dalam burung hijau, memiliki pelita (sangkar) yang tergantung di ’arsy, terbang di dalam surga ke tempat yang dikehendaki, lalu kembali ke pelita lagi. Allah memperhatikan mereka dan berkata, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab, ”Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bebas terbang ke mana saja?” Allah mengulangi pertanyaan-Nya sampai tiga kali. Ketika mereka menganggap bahwa mereka tidak akan berhenti ditanya (sampai mereka memberikan jawaban), mereka berkata, ”Wahai, Allah! Kami ingin agar Engkau mengembalikan arwah kami ke jasad kami sehingga kami dapat berjihad di jalan-Mu lagi. Tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak ada permintaan lagi, mereka pun ditinggalkan.” (HR. Muslim no. 1887).

Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah berkata kepada Jabir,

”Maukah kamu jika aku kabarkan kepadamu apa yang dikatakan Allah kepada bapakmu?” (Allah bertanya kepada bapakmu) ”Wahai hamba, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberi!” Sang hamba menjawab, ”Wahai, Allah! Hidupkanlah aku sehingga aku bisa terbunuh kedua kalinya karena Engkau.” Allah menjawab, ”Ketetapan-Ku sudah pasti bahwa mereka tidak dikembalikan ke dunia.” (HR. At-Tirmidzî, dihasankan oleh Al Albâni dalam Shahîh at-Tirmidî no. 3010).

KESIMPULAN
Dari beberapa dalil yang telah kami sebutkan, dapat dismpulkan bila roh apabila telah tercabut dari jasad, maka tidak mungkin lagi kembali ke dunia, entah kepada keluarganya, dipanggil, atau pun reinkarnasi (penitisan kembali). Sekaligus bantahan kepada orang yang meyakini hal itu. Semua itu tiada lain kecuali permainan setan dan jin yang mengelabuhi orang-orang yang tertipu, agar mereka terjatuh dalam dosa besar, kesyirikan.

Oleh karena itu, yang mungkin terjadi dalam kasus kesurupan adalah ulah syaitan dari jin yang senantiasa bersaing dengan malaikat untuk menjadi Qarin (teman pendamping) manusia. Rasulullah bersabda,

“Tidak ada seorang manusia pun melainkan bersamanya syaitan.” (H.R. Muslim).

Firman Allah, “Berkata “Qorin” (yang menyertai) dia, “Ya Allah Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (Q.S. Qaaf: 27).

Rasulullah juga bersabda tentang al Qarin,

“tidak satupun dari kamu yang tidak diwakilkan oleh Allah seorang Qarin (peneman) baginya dari bangsa jin.”

Mereka adalah orang yang tertipu oleh tipu daya jin (jin Qarin ) dan jin telah membuat mereka merasa bahwa keahlian mereka merupakan “mukzijat” atau “karomah” dari Allah. Jin itu sengaja melakukannya dengan tujuan untuk menjerumuskannya dan menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tidak ada roh manapun yang memiliki wewenang dari Allah yang dapat dipanggil dan berkomunikasi tentang perkara – perkara ghaib dengan manusia yang ternyata banyak salah daripada benarnya, seperti: ramalan kiamat 1999, ramalan ratu adil dan satria pinginit, ramalan jangka jayabaya, dll. Apabila terjadi rentetan peristiwa yang membenarkan ramalan itu hanyalah sebuah kebetulan – kebetulan yang berasal dari Allah SWT. Banyak orang yang menjadikan rentetan peristiwa itu sebagai alasan pembenaran ramalan – ramalan. Padahal semua itu hanyalah perbuatan jin (jin Qarin )yang menipu ummat manusia.

Ummat Islam harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengkaji dan memahami fenomena Jin dan Roh supaya tidak terjadi kerancuan roh itu mampu bergentayangan. Apabila anda menpercayai dan menyakini roh itu bergentayangan bisa mengelincirkan akidah Islam anda menuju ke arah bid’ah, khurafat dan musyrik.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar ditutup.