SIAPAKAH ULAMA & WALI ALLOH ITU?? AUDIO – KEWAJIBAN KEMBALI KEPADA ULAMA!!!

Posted: 2 Juni 2011 in DOWNLOAD, Download AUDIO, Ilmu & Ulama

Siapa Para Ulama ?

Penulis Ustadz Qomar Suaidi

Mungkin muncul pertanyaan siapakah ulama itu? Hingga kini banyak perbedaan dlm menilai siapa ulama. Sehingga perlu dijelaskan siapa hakekat para ulama itu

Untuk itu kita akan merujuk kepada penjelasan para ulama Salafus Shaleh dan orang2 yg menelusuri jalan mereka. Kata ulama itu sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim yg arti orang berilmu. Untuk mengetahui siapa ulama kita perlu mengetahui apa yg dimaksud dgn ilmu dlm istilah syariat krn kata ilmu dlm bahasa yg berlaku sudah sangat meluas. Adapun makna ilmu dlm syariat lbh khusus yaitu mengetahui kandungan Al Qur’anul Karim,  Sunnah Nabawiyah dan ucapan para shahabat dlm menafsiri kedua dgn mengamalkan dan menimbulkan khasyah kepada Allah

Imam Syafi’i berkata: “Seluruh ilmu selain Al Qur’an adl hal yg menyibukkan kecuali hadits dan fiqh dan memahami agama. Ilmu adl yg terdapat pada haddatsana dan selain dari pada adl bisikan-bisikan setan.”

Ibnu Qoyyim menyatakan: “Ilmu adl berkata Allah berkata Rasul-Nya berkata para shahabat yg tiada menyelisihi akal sehat padanya.”

Dari penjelasan makna ilmu dlm syariat mk orang alim atau ulama adl orang yg menguasai ilmu tersebut serta mengamalkan dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahuwata’ala . Oleh karena dahulu sebagian ulama menyatakan ulama adl orang yg mengetahui Allah Subhanahuwata’ala dan mengetahui perintah-Nya. Ia adl orang yg takut kepada Allah Subhanahuwata’ala dan mengetahui batasan-batasan syariat-Nya serta kewajiban-kewajiban-Nya. Rabi’ bin Anas menyatakan “Barangsiapa yg tdk takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.”

Allah berfirman “Sesungguh yg takut kepada Allah hanyalah ulama .”

Kesimpulan orang2 yg pantas menjadi rujukan dlm masalah ini adl yg berilmu tentang kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ucapan para shahabat. Dialah yg berhak berijtihad dlm hal-hal yg baru.

Ibnu Majisyun salah seorang murid Imam Malik mengatakan: “Dahulu menyatakan ‘Tidaklah seorang itu menjadi Imam dlm hal fiqh sehingga menjadi imam dlm hal Al Qur’an dan Hadits dan tdk menjadi imam dlm hal hadits sehingga menjadi imam dlm hal fiqh.”

Imam Syafi’i menyatakan: “Jika datang sebuah perkara yg musykil jangan mengajak musyawarah kecuali orang yg terpercaya dan berilmu tentang al Kitab dan Sunnah ucapan para shahabat pendapat para ulama’ qiyas dan bahasa Arab.

Merekalah ulama yg hakiki bukan sekedar pemikir harakah mubaligh penceramah aktivis gerakan dakwah ahli membaca kitabullah ahli taqlid dlm madzhab fiqh dan ulama shu’ atau ahlu bid’ah. Tapi ulama hakiki yg istiqamah di atas Sunnah

Wallahu a’lam ?

Sumber : http://www.asysyariah.com

——————————————–

Siapakah Ulama?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullahberkata,

Sudah amat jelas bahwa para ulama adalah pewaris para nabi dan para ulama adalah pengganti mereka. Cukup bagi kita keutamaan para ulama yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Allah menyatakan bahwa mereka bersama malaikat-Nya mengakui keesaan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan) melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Sudah dimaklumi bahwa kata ulama jika disebut dalam Al Qur’an dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang dimaksud adalah ulama yang mengenal Allah dan syari’at-Nya. Mereka itulah yang mengambil ilmu dari Al Qur’an dan As Sunnah. Juga mereka mengambil ilmu dari kaedah yang menjelaskan perihal syari’at. Inilah yang dimaksud dengan ulama jika disebut dalam Al Qur’an dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau disebut dalam perkataan ulama syari’at lainnya.

Di sana ada istilah ulama lainnya yaitu bagi orang yang berilmu dalam kesehatan, geografi dan ilmu lainnya yang dibutuhkan manusia. Orang seperti ini memiliki keutamaan tergantung niatan mereka dan manfaat yang mereka berikan pada manusia. Namun sekali lagi, jika istilah ulama itu dimutlakkan dalam Al Qur’an, sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau disebut dalam perkataan ulama syari’at lainnya, maka yang dimaksud adalah ulama yang paham akan Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 23/197]

Dari penjelasan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di atas menunjukkan bahwa ulama adalah orang yang paham akan Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang dokter, insinyur, pakar geografi, mereka juga adalah orang yang berilmu (baca: ulama). Namun mereka bukanlah yang mendapatkan pujian sebagaimana disebut dalam ayat di atas. Keutamaan mereka adalah jika mereka memanfaatkan ilmu dunia yang mereka geluti untuk kemaslahatan umat. Dari sini juga kita dapat pahami bahwa jika dalam Al Qur’an dan hadits disebut ilmu dan mendapat pujian orang yang berilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama dan bukan ilmu dunia.

Semoga faedah ilmu yang kami peroleh sore ini bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga Allah selalu menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat dalam setiap hela nafas kita.

After ‘Ashar @ Sakan 27 of KSU, Riyadh-KSA, 27 Jumadats Tsaniyyah 1432 H (30/05/2011)

www.rumaysho.com

———————————————————–

Wali Allah, Siapakah Dia?

Ketika disebut kata wali maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah suatu keanehan, ke-nyleneh-an, dan kedigdayaan. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap wali ini. Maka bila ada orang yang bertingkah aneh, apalagi kalau sudah dikenal sebagai kyai, mempunyai indera keenam sehingga mengerti semua yang belum terjadi, segera disebut sebagai wali. Lalu siapakah wali Allah yang sebenarnya?

Definisi Wali

Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rosul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8).

Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.

Wali Allah Adalah yang Beriman Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon hlm. 34 mengatakan: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imron: 31)

Hasan Al Bashri berkata: “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka”.

Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau ShallAllahu ‘alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa sallam.

Maka sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syari’at yang dibebankan padanya.

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Majalah Al Furqon Ed.1/Th.III dengan sedikit tambahan)

***

Penulis: Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

—————————————-

AUDIO – KEMBALI KEPADA ULAMA

Sebuah daurah yang membahas kepada ruju kepada ulama bersama Ustadz Armen Halim Naro rohimahumullah, Ustadz Muhammad Nur Ihsan, Aspri Rahmad Azai.

a.Kembali Kepada Ulama – Muhammad Nur Ihsan

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama/a.Kembali%20Kepada%20Ulama%20-%20Muhammad%20Nu.mp3?l=12

b.Kembali Kepada Ulama – Aspri Rahmat Azai

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama/b.Kembali%20Kepada%20Ulama%20-%20Aspri%20Rahma.mp3?l=12

c.Kembali Kepada Ulama

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama/c.Kembali%20Kepada%20Ulama.mp3?l=12

d.Kembali Kepada Ulama

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama/d.Kembali%20Kepada%20Ulama.mp3?l=12

e.Kembali Kepada Ulama

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama/e.Kembali%20Kepada%20Ulama.mp3?l=12

——————-

sunber : http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Kembali%20Kepada%20Ulama

Iklan

Komentar ditutup.