MEMAHAMI ‘AQIDAH SHOHIHAH

Posted: 3 Juli 2011 in Aqidah Shohihah - Seputar Tauhid

by za_assalafiyyah

buletin al-hanif

buletin al-hanif

Tulisan ini merupakan bunga rampai dari tulisan kami edisi lalu. Apabila dalam edisi lalu kita telah membahas tentang pentingnya ‘aqidah, pengertian ‘aqidah, dan ‘aqidah shohihah, maka pada edisi kali ini kita akan membahas tentang hal-hal yang wajib diketahui setiap Muslim mengenai masalah ‘aqidah shohihah:

1. Sumber ‘aqidah adalah Kitabulloh (Al-Qur’an), Sunnah Rosululloh j yang shohih dan ijma’ ‘Ulama yang Tsiqoh (terpercaya).

2. Setiap sunnah yang shohih yang berasal dari Rosululloh j wajib diterima, walaupun sifatnya Ahad (diriwayatkan oleh seorang periwayat atau lebih, tetapi periwayatannya dalam jumlah yang terhitung).

3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah nash-nash (teks Al-Qur’an atau hadits) yang menjelaskan hal tersebut, pemahaman para ulama yang mengikuti mereka, serta arti kata yang benar menurut bahasa ‘Arob. Akan tetapi apabila sudah ada definisi yang benar (berdasarkan Al-Qur’an atau As-Sunnah yang shohih) maka kita tidak boleh mempertentangkannya dengan definisi menurut bahasa. Contoh, Alloh Ta’ala berfirman, “…dan dirikanlah sholat…” (QS. Al-Baqoroh:43) Apa yang dimaksud dengan sholat? Bagaimana tata caranya? Apakah setelah membaca satu ayat tersebut kita bisa sholat dengan benar? Tentunya tidak. Kita butuh merujuk kepada ayat yang lain ataupun hadits Rosululloh yang menjelaskan masalah itu.

Alloh Ta’ala berfirman,

“Wa sholli ‘alaihim” (Dan berdo’alah bagi mereka) (QS. At-Taubah:103).
Berdasarkan ayat ini, sholat secara bahasa bermakna do’a. Lalu, apakah setiap orang yang berdo’a disebut orang yang sholat? Tentunya tidak. Karena Rosululloh j bersabda, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad). Dari sini kita mengetahui bahwa untuk mengamalkan suatu ibadah saja dengan benar, kita butuh kepada puluhan bahkan ratusan hadits (shohih).

4. Prinsip-prinsip utama dalam agama (ushuluddin) telah dijelaskan oleh Nabi j. Siapapun tidak berhak mengadakan sesuatu yang baru (membuat-buat) dalam masalah agama. Karena Alloh Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup. Alloh Ta’ala berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maa-idah:3)

5. Berserah diri (taslim), patuh dan taat hanya kepada Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghoib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan lainnya.

6. Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shohih. Kedua dalil tersebut, tidak akan pernah bertentangan selama-lamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan diantara keduanya, maka dalil naqli (ayat ataupun hadits) harus didahulukan.

7. Rosululloh ‘alaihish sholatu was salaam adalah ma’shum (dipelihara Alloh dari kesalahan) dan para Shohabat secara keseluruhan dijauhkan Alloh dari kesepakatan di atas kesesatan. Namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma’shum. Jika ada perbedaan di antara para Imam atau yang selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan pada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh j dengan memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang berijtihad.

8. Bertengkar dalam masalah agama itu tercela, akan tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru’ah (disyari’atkan).

9. Kaum Muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Oleh karena itu, suatu bid’ah tidak boleh dibalas dengan bid’ah lagi, kekurangan tidak boleh dibalas dengan berlebih-lebihan atau sebaliknya.

10. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid’ah. Rosululloh j bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. An-Nasa-I (III/189) dari Jabir d dengan sanad yang shohih).

Iklan
Komentar
  1. alfa berkata:

    izin copy, untuk disebar
    Jazakumullah khoir..