(mp3) Hukum Melakukan Kultum Sebelum / Sesudah Tarawih

Posted: 7 Agustus 2011 in DOWNLOAD, Download AUDIO, Ramadhan & Syawal

Pertanyaan:

Pada sebagian umat Islam, jika selesai salat tarawih, sebelum tarawih pasti ada kultum. Apa ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa itu bid’ah?

Jawab:

Namanya kultum atau nasihat, kapan saja boleh. Setelah tarawih, sebelum tarawih, sebelum salat witir. Ya, itu semua boleh. Kita memberikan nasihat ketika berkumpulnya mereka, tetapi jangan dianggap bahwa itu sesuatu yang wajib atau sesuatu yang syariat harus begitu, tidak. Tidak diperintahkan pada waktu tertentu setelah tarawih. Tidak diperintahkan pada waktu tertentu sebelum tarawih. Tidak diperintahkan pada waktu tertentu sebelum witir. Nggak ada. Itu sekadar nasihat yang kapan saja boleh sehingga jangan sampai diyakini bahwa itu adalah sesuatu yang disyariatkan harus begitu. Kalau khawatir dikira oleh masyarakat bahwa itu adalah sesuatu yang wajib, sesuatu syariat maka sesekali diliburkan. Iya. Lho, kok nggak ada kultum? Iya, libur. Kok bisa libur? Ya, karena memang tidak diwajibkan dan tidak ada perintah harus begitu. Nggak ada. Atau diganti sesekali ba’da tarawih, sesekali sebelum tarawih, sesekali setelah salat tarawih sebelum witir, setelah kultum baru witir. Silakan. Na’am. Wallahu ta’ala a’lam.

(Pertanyaan dibaca dan dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad Umar Sewed di Masjid Al-I’tisham Sudirman pada kajian Etika Sunnah)

sumber : http://www.mail-archive.com/

Download Kajian

sumber : http://www.ilmoe.com/

—————————————————————

Kultum Ba’da Tarawih, Bolehkah?

Pertanyaan:

hukumnya memberikan kultum ba’da shalat , karena ada sebagian yang mengatakan bid’ah?

Jawaban:

Kami tidak memandang hal ini termasuk dalam amalan bid’ah. Bahkan sebaliknya, kami memandang hal ini termasuk amalan yang baik, sarana dakwah yang bagus, dan menggunakan kesempatan, karena sebagaimana dimaklumi bersama bahwa manusia pada saat-saat tersebut sedang berkumpul dan mempunyai semangat ibadah yang mungkin tidak ada di saat-saat lainnya.

Namun, hendaknya sang penceramah menyampaikan perkara-perkara agama yang bermanfaat bagi manusia, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, dan sebagainya. Selain itu, hendaknya ceramah  disampaikan secara singkat-padat, sehingga tidak membuat jemaah jemu dan pergi meninggalkan mesjid.

Adapun menghukumi amalan ini termasuk bid’ah, maka ini amat jauh sekali. Kami tidak mendapati seorang ulama pun yang berpendapat demikian, bahkan para ulama Nejed dan lainnya kadang-kadang melakukan hal ini, di antaranya juga adalah Syekh Muhammad bin Utsaimin. Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Janganlah engkau berucap dalam sebuah masalah yang engkau tidak mempunyai imam dalam masalah tersebut.” (Manaqib Imam Ahmad, hlm. 178, Ibnul Jauzi)

Akhirnya, kami berwasiat kepada semuanya untuk lebih mendalami ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengannya, serta tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan sebuah hukum. Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin.

Disadur dari Majalah Al-Furqon, edisi 2, tahun ke-5, 1426 H/2005.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

—————————————————

Oleh: Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid

Pertanyaan:

Apa hukum syariat tentang pengajian yang diadakan setelah empat rakaat dalam shalat Tarawih?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pengajian yang disampaikan oleh sebagian para imam dan para pemberi nasehat di antara shalat Taraweh tidak mengapa Insya Allah. Namun lebih bagus jika tidak terus menerus, khawatir orang-orang berkeyakinan hal itu adalah bagian dari shalat, juga khawatir mereka berkeyakinan hal itu wajib, sehingga mereka mengingkari orang yang tidak melakukannya.

Seorang Imam, atau ustadz hendaknya dibolehkan menyampaikan sedikit permasalahan tentang hukum agama terutama masalah-masalah yang dibutuhkan pada bulan ini, namun sebaiknya, terkadang dia meninggalkannya sebagaimana tadi disebutkan. Tidak diragukan lagi bahwa ceramah dan nasehat-nasehat ini lebih bermanfaat dibandingkan keluar atau perbincangan duniawi dan berisik. Juga lebih baik dari zikir bid’ah yang dibuat oleh sebagian para imam setelah empat rakaat.

Syaikh Abdullah al-Jibrin berkata: “Orang-orang pada zaman ini shalatnya pendek, mereka laksanakan satu jam atau kurang. Maka sebenarnya tidak perlu istirahat, karena mereka tidak merasa letih atau kepayahan. Akan tetapi kalau sebagian imam ada yang hendak duduk atau istirahat sebentar di sela-sela rakaat, maka lebih utama saat duduk menunggu tersebut diisi dengan nasehat, peringatan, membaca buku yang bermanfaat, menafsirkan ayat yang baru dibaca, ceramah, atau menyebutkan beberapa hukum, agar mereka tidak keluar atau bosan. Wallahu ‘alam

(Al-Ijabat Al-Bahiyyah Fi Al-Masail Ar-Ramadhaniyah, Pertanyaan kedua)

Wallahu ‘alam.

Sumber: www.islamqa.com

Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

Iklan

Komentar ditutup.