BANTAHAN TERHADAP SYUBHAT2 YANG TERSEBAR DI MASYARAKAT

Posted: 13 Mei 2012 in Syubhat & Bantahan

Ketika kita, ustadz atau  masyaikh ahlussunnah (salafiyyin) menegur kesalahan seseorang atau kelompok harokah yang jelas-jelas menyelisihi dalil-dalil shohih, maka serta merta mereka menjawab dengan berbagai jawaban, di antaranya : 1. Jangan merasa benar sendiri, 2. jangan meributkan masalah-masalah kecil, 3. kamu hanya membahas cangkang bukan inti, 4. kamu jangan memecah belah persatuan umat, 5. kaum muslimin di bantai, tapi kamu tetap persoalkan bid`ah dan syirik? 6. kan ulama masih berselisih? 7. itu kan pendapat ulamamu, aku juga punya ulama/ustadz/kiyai? 8. menuntut ilmu kepada siapa saja, jangan pilih-pilih. Begitulah Syubhat-syubhat yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin, tidak sedikit kaum muslimin yang kurang ilmu agama, terpengaruh dengan salah satu atau lebih di antara syubhat di atas.

Lantas bagaimana kita menjawab syubhat-syubhat di atas, (yang sering dilontarkan oleh orang-orang awam bahkan para aktivis islam malah yang lebih memprihatinkan lagi lontaran-lontaran miring itu juga sering dihembuskan oleh tokoh-tokoh agama), insya Allah penulis akan menjawab syubhat-syubhat di atas dengan mengambil sumber rujukan utama dari sebuah buku yang sangat bagus berjudul : (meniti jalan kebenaran) Solusi Kebingungan Di tengah Keanekaragaman Pemikiran” karya  al-ustadz Abu Yahya Badrusalam,Lc. serta tambahan dari sumber buku Ilmu ushul Bida` karya syaikh Ali Hasan Al-Halabi al-Atsary dan sumber ilmiah lainnya. semoga bermanfaat.

syubhat pertama dan bantahannya, Jangan Merasa Benar Sendiri

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan sudahlah, jangan merasa benar sendiri! sehingga menjadi pertanyaan pada benak kita; apakah perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas kilah yang tak beralasan pada dalil yang menunjukkan kepada kebingungan? Tentunya hal itu harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadist atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut. Coba lihat QS. An Nisa: 59 :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib dikembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya, Allah tidak mengatakan; jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengembalikannya kepada Quran dan sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan al-quran dan sunnah.

Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah di antara mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri! seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh addarimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas`ud mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjamaah dengan memakai kerikir dan berkata : celaka kamu hai umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian… apakah kamu merasa di atas millah yang lebih baik dari millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan?! kemudian mereka berkata : Sesungguhnya kami menginginkan kebaikan”. Beliau berkata : berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya (karena caranya salah). Dalam kisah tersebut tidak dikatakan : jangan kamu merasa benar sendiri.

Demikian pula para tabiin, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkan oleh al-baihaqi dalam sunannya(2/466), Abdurrozaq(3/52), ad-darimi dan ibnu Nashr bahwa sa`id bin Musayyid melihat seorang laki-laki sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat, lalu sa`id melarangnya, kemudian orang itu berkata : wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzab saya gara-gara sholat? Beliau menjawab : tidak, tapi Allah akan mengadzabmu karena kamu menyalahi sunnah”. Tidak pula dikatakan padanya : jangan merasa benar sendiri.

Demikian pula tabi`ut tabiin dan para ulama setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri.

Disebutkan dalam kisah bahwa imam Asy-Syafii mendebat imam Ahmad dalam masalah hukum orang meninggalkan sholat, di mana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat kafir murtad dari agama Islam, sedangkan imam Asy-Syafii tidak mengkafirkannya, tapi imam Asy-syafii atau imam Ahmad tidak pernah mengatakan : jangan merasa benar sendiri! Tapi yang dikatakan imam Asy-Syafii adalah : tidaklah aku berdialog dengan seorang pun kecuali aku berkata : Ya Allah, alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku, ia mau mengikutiku dan kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya. (lihat ilmu ushul bida` hal. 179).

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid`ah dan kesesatan, imam Ahmad menulis kitab Arrodd `alal jahmiyyah (bantahan terhadap jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd `alal qodariyyah (bantahan terhadap qodariyyah), Ad-darimi menulis kitab Roddu ustman ad darimi `ala Bisyir Al-Marisi adl Dlooll (bantahan ustman ad-darimi terhadap Bisyir Al-Marisi yang sesat), dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berkata : jangan merasa benar sendiri. Cobalah anda renungkan perkataan syaikhul islam Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Harowi : pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : diamlah dari orang yang menyelisihimu!! Aku tetap menjawab : aku tidak akan pernah diam….(kitan siyar a`lam Nubala 18/509 karya Imam Adz-Dzahabi).

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan : “jangan merasa benar sendiri” apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut? Tentu ia berkata : ya. Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri,  jelas ini kontradiktif yang fatal. Jadi merasa benar dengan pendapat yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung oleh `ijma ulama adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya. Wallahu a`lam.

http://abunamira.wordpress.com/

Bersambung —> klik hal bawah!

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar
  1. Vale S mengatakan:

    Annisa 59 tu copas dimana?

  2. abu adam mengatakan:

    beginilah sikap ahlul ilmi yang patut kita contoh berlapang dada dan tunduk pada kebenaran.