KENAPA ASATIDZ SALAFY TIDAK MAU DEBAT TERBUKA DENGAN ‘KHAWARIJ’ ?

Posted: 6 Desember 2012 in Fitnah Takfir, Terorisme, Syubhat & Bantahan

debat“Yg ana sesalkan knp asatidz dr salafi tidak berani diskusi terbuka dg org yg mrk tuduh khowarij ?. Bukankah salaf kt yaitu ibnu abbas mencontohkan kpd kt yaitu, melakukan debat terbuka dg khowarij. Lah ? Ini mah nuduh dulu. Pas diajak mencontoh ibnu abas tdk berani. Pdhl ibnu abbas itu nyamperin khowarij lho ?. jd kl mau ikut salaf yg konsisten dong. Buku syubhat salafi, salah kaprah salafi, salafi penghianat salafusholeh dan bahaya penyimpangan neo murjiah sudah ada. Tp sampai detik ini tidak ada satupun asatidz dari salafi yg menantang debat terbuka atau bedah buku tsb didepan publik. Alasannya mrk berdalih ngapain debat dg ahli bidah ? Lah ? Bknnya khowarij itu ahli bidah ?. Knp bisa dan beraninya cm diblog atau dunia maya ?…siapa salaf yg kalian contoh ?”.

JAWABAN

“Metode debat itu bukan metode yang berlaku umum. Kalau Anda mengaku berdalil dengan perbuatan Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, sebenarnya Anda sedang tidak berdalil dengannya – sebagaimana yang Anda sangka.

Mengapa Anda tidak bertanya pada diri Anda sendiri : Mengapa ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak mengajak debat orang-orang Khawarij itu pada kali pertama?.

Dilihat dari kapasitas ilmu dan keutamaan, ‘Aliy jelas tidak lebih rendah dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu. Bahkan, ketika Ibnu ‘Abbaas hendak berangkat menemui orang-orang Khawaarij, ‘Aliy sempat mencegahnya karena khawatir akan keselamatannya.

Apakah menurut Anda ketika ada nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus shahabat untuk berdebat secara terbuka dengannya ?.

Apakah menurut Anda ketika paham Qadariyyah muncul di jaman Ibnu ‘Umar (sebagaimana ada dalam hadits Jibril), Ibnu ‘Umar bergegas menantang debat dengan orang-orang Qadariyyah itu ?.

Apakah menurut Anda semua ulama shahabat, taabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’iin melakukan debat terbuka dengan ahli bid’ah ?. Bukankah mereka itu salaf kita, seperti kata Anda ?.

Bahkan, kalau Anda sering baca kitab ulama, mereka menjauhi debat dalam agama, debat dengan ahlul-bid’ah, debat dengan orang keras kepala, dan yang lainnya.

Debat secara langsung itu selain membutuhkan ilmu, juga membutuhkan kepandaian berbicara. Betapa banyak orang yang berilmu dan berada di atas kebenaran kalah dalam media perdebatan karena kalah kepandaian bicara dengan lawan debatnya ?.

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ, وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ, فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوٍ مِمَّا أَسْمَعُ, مِنْهُ فَمَنْ قَطَعْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا, فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ اَلنَّارِ

Dari Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian senantiasa mengadukan persengketaan kepadaku. Bisa jadi sebagian darimu lebih pandai mengemukakan alasan daripada yang lainnya, lalu aku memutuskan untuknya seperti yang aku dengar darinya. Maka barangsiapa yang aku berikan kepadanya sesuatu yang menjadi hak saudaranya, sebenarnya aku telah mengambilkan sepotong api neraka untuknya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7169 dan Muslim no. 1713].

Dan janganlah Anda pernah berangan-angan bahwa asatidzah Salafiy tidak pernah memberikan nasihat kepada Aman ‘Abdurrahmaan cs. Sebelum ia tercebur ke dalam limbah pemikiran takfirinya, ia telah berulang kali diberikan nasihat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tapi sebagaimana yang Anda lihat hasilnya. Jadi,… kalau mau ajak debat terbuka dengan Aman ‘Abdurrahmaan – misalnya – , sia-sia. Debat terbuka cenderung membuka gengsi pelakunya untuk menarik pendapat yang salah. Ini lazim, kecuali yang dirahmati oleh Allah.

Apalagi kalau debat terbuka itu kemudian ngundang orang-orang awam atau simpatisan-simpatisan Aman yang nggak ngerti kaedah berdalil, gak ngerti bahasa ‘Arab, gak ngerti kitab-kitab ulama…. Anda bisa bayangkan apa yang terjadi ?. Atau mungkin Anda tidak pernah mengikuti debat terbuka yang dihadiri oleh orang-orang awam dan simpatisan-simpatisan ya ?.

Debat terbuka itu dilakukan jika memang ada maslahat kuat. Dan di sini : gak ada.

Kritikan dalam bentuk tulisan itu kadang lebih efektif, terutama jika kritikan itu juga ditujukan untuk edukasi terhadap orang awam. Tulisan itu dapat disusun dengan lebih tenang dan pikiran jernih. Tulisan tidak terintervensi dengan sifat-sifat manusia yang biasa ada ketika bicara langsung dengan rekannya. Tulisan dapat terdokumentasikan dan lebih abadi. Tulisan lebih dapat dipahami oleh orang awam dalam hal kekuatan argumentasi. Tulisan lebih dapat menampilkan bukti dan hujjah yang akurat. Dan yang lainnya.

Sumber: http://www.facebook.com/donnie.aw?fref=ts

Komentar
  1. Abu Fadhilah mengatakan:

    jawaban yang mantab bagi orang yang belum atau tdk memahami ttg ilmu syar’i. jadi debat terbuka membuat seseorang emosi lbih dikedepankan dari pada dalil yang shahih.

  2. Abah Azmi mengatakan:

    JAWABAN YG SANGAT BIJAK, SYUKRON ATAS ILMUNYA. SANGAT BERMANFAAT

  3. ABU MUSLIM mengatakan:

    DEBAT TERBUKA BISA MADHOROT
    LHA WONG USTADZ ZAENAL ABIDIN HAFIDZHOHULLOH SAJA DI MASJID AMAR MA’RUF BEKASI SAMPE MAU DISERANG KOK LAGI KAJIAN.
    KABAYANG DEH….
    NGERI….MEREKA TEGA KALI YA MUKULIN USTADZ..APALAGI MUKULIN KITA2….

  4. layla mengatakan:

    Memang sebaiknya tinggalkan perdebatan, artikel/ Tulisan akan membuat orang berfikir dan mencoba menganalisa dari tulisan yang dibuat. Saya pernah melihat debat Islam-kristen yang berbicara tentang Tuhan, dan yang dari muslim berucap “astaghfirullah” karena salah / terikut perumpamaan tuhan oleh si org kristen.., Jadi dampaknya sampai menghinakan Tuhan, walaupun hanya salah ucap.