Archive for the ‘Fitnah Surury, Tahdzir, Hajr’ Category

Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman pengajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari dengan tema Menyikapi Perbedaan di Kalangan Salafiyyun yang diangkat dari sebuah kitab yang ditulis oleh seorang ulama besar Salafi, yaitu Syaikh Ali Hasan al-Halabi Al-Atsari. Semoga nasihat yang sangat jelas dan gamblang dari ustadz Abu Ihsan dalam kajian ini bermanfaat bagi kaum muslimin, khususnya bagi orang-orang yang menisbahkan diri mereka kepada dakwah Salafiyyah. (lebih…)

Iklan

Bagi Ikhwah yang biasa mengikuti kajian di majelis taklim manhaj salaf sudah tentu tidak asing di telinga mereka istilah sururi. Namun sayang sekali, istilah ini banyak disalah alamatkan untuk mencela sesama ahlussunnah. Tuduhan sururi pun gencar dilontarkan oleh sebagian kelompok yang juga mengaku Ahlussunnah kepada Ahlussunnah yang lain. Siapa Sururi dan bagaimana ciri-cirinya menjadi semakin kabur dari bahasan para Ulama, dan akhirnya menjadi tuduhan-tuduhan kosong tanpa bukti. (lebih…)

DI SAAT BADAI FITNAH MENERPA…

WAHAI AHLUS SUNNAH DENGARKAN NASEHAT INI…

Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman kajian dengan tema Nasihat Ulama dalam Menghadapi Fitnah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Salman Musthofa Al-Buthoni (Murid Syaikh Muqbil, Alumni Darul Hadits Yaman). Kajian ini diselenggarakan oleh Ponpes Minhajus Sunnah di Mesjid Arroufurrahim, Kampus Baru Unhalu, Kendari (Jumat, 18 maret 2011). Sebenarnya, kajian ini bersamaan waktunya dengan jadwal kajian Ustadz Abdullah Taslim Al-Buthoni, M.A. Akan tetapi, beliau memberikan kesempatan kepada Al-Ustadz Musthofa untuk mengisi kajian.

Nasehat Ulama Untuk Menghadapi Fitnah 01

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Salman%20Musthofa%20Al-Buthoni/Nasihat%20Ulama%20dalam%20Menghadapi%20Fitnah/Nasehat%20Ulama%20Untuk%20Menghadapi%20Fitnah%2001.mp3?l=12 (lebih…)

Merupakan suatu kenyataan yang sangat pahit tatkala kita melihat praktek sebagaian saudara-saudara kita yang sangat mudah menghukumi saudaranya sebagai Ahlul bid’ah –hanya karena sedikit berbeda dengannya-. Padahal saudaranya yang ia vonis dan diberi stempel mubtadi’ pada dasarnya sama dengan dirinya (yang memvonis) dalam perkara aqidah, cara beribadah, cara berdalil, dan cara memahami nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Buku-buku yang dijadikan pegangan adalah sama, ulama kibar yang dijadikan rujukan juga sama, bahkan penampilan dan cara berpakaian juga sama. Bisa jadi kita katakan 95 persen sama antara mereka berdua, (lebih…)

Tahdzir Berantai Fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafidhohullah tentang At-Turoorts

Fatwa yang hilang….

Fenomena yang sangat menyedihkan yang didapati oleh penulis dari sebagian saudara-saudara kita yang hobinya mentahdzir dan menghajr adalah kurang jujur dalam menebarkan fatwa. Padahal sudah berapa banyak ustadz yang telah mereka gelari dengan ‘Al-Kadzdzaab/pendusta”. Akan tetapi sikap kurang jujur ini akhirnya mereka lakukan sendiri. Fenomena yang menyedihkan tersebut adalah fenomena “Menyembunyikan Fatwa”. Jika mereka mau jujur dan gentleman tentunya mereka menampilkan fatwa yang juga berseberang dengan mereka, apalagi yang bertanya adalah mereka sendiri.

Artikel2 sebelumnya:

  1. Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 1)
  2. Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 2): Hajr Bukan Merupakan Ghoyah (Tujuan), Akan Tetapi Merupakan Wasilah
  3. Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 3): Adab Mengkritik Diantara Ahlus Sunnah
  4. Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 4): Hajr Tidak Boleh Diterapkan Pada Perkara-Perkara Ijtihadiah
  5. Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 5): Contoh Nyata Khilaf Ijtihadiah Diantara Para Ulama Tentang Menghukumi Seseorang

(lebih…)

SEKALI LAGI TENTANG IHYA’UT TURATS (bag 1,2&3)

SEKALI LAGI TENTANG IHYA’UT TURATS (1)

Disarikan dari artikel Al-Ustadz Firanda as-Soronji untuk menepis syubhat dan menjawab tuduhan para ghulat

(Bagian 1)
badai4Pengantar

Nasehat al-‘Allamah al-Muhaddits Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr, salah seorang ulama yang paling senior di Madinah, tentang sikap sebagian Ahlus Sunnah di Indonesia yang meng-hajr dan mencela saudara-saudara mereka yang bermu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats:

“Aku katakan, tidak boleh bagi Ahlus Sunnah di Indonesia untuk berpecah belah dan saling berselisih disebabkan masalah mu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats, karena ini adalah termasuk perbuatan setan yang dengannya ia memecah belah di antara manusia. Namun yang wajib bagi mereka adalah besungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Hendaknya mereka meninggalkan sesuatu yang menimbulkan fitnah. Yayasan Ihya` at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin. Dan wajib atas Ahlus Sunnah di sana (di Indonesia, pen) untuk bersepakat dan meninggalkan perpecahan.” [Jawaban berupa nasehat ini beliau sampaikan di masjid seusai shalat Zhuhur, Kamis, 13 Oktober 2005, atau 10 Ramadhan 1426 H. (lebih…)