Jama’ah Tabligh Mengajarkan Syirik dan Bid’ah

Posted: 25 November 2011 in Firqoh Jama'ah Tabligh

Di bawah ini adalah sebuah kisah dari sekian banyak kisah yang mengandung ajaran syirik dan bid’ah yang disebarkan oleh Jama’ah Tabligh, terdapat dalam sebuah kitab yang sering dibawa oleh jama’ah ini dari satu masjid ke masjid lainnya, yaitu kitab Fadhail Al-A’mal, disebutkan pada halaman 484:

“Dari Syaikh Waliullah yang berkata dalam kitab Qaulul Jamil: “Ayah saya telah berkata bahwa ketika saya baru belajar suluk, dalam satu nafas dianjurkan supaya membaca Laa ilaaha illallah sebanyak dua ratus kali,”

Syaikh Abu Yazid Qurtubhi berkata: “Saya mendengar bahwa barang-siapa membaca kalimat Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, ia akan terbebas dari api neraka. Setelah mendengar hal itu, saya membaca untuk istri saya sesuai dengan nishab[1] tersebut. Tidak lupa, saya juga membaca untuk nishab diri saya sendiri.

Di dekat saya, tinggal seorang pemuda yang terkenal sebagai ahli kasyaf.[2] Dia juga kasyaf tentang surga dan neraka. Namun saya agak meragukan kebenarannya. Pada suatu ketika, pemuda tersebut ikut makan bersama kami. Tiba-tiba ia berkata dan meminta kepada saya sambil berteriak, katanya: “Ibu saya masuk neraka, dan telah saya saksikan keadaannya.”

Karena melihat kegelisahan pemuda tersebut, saya berpikir untuk membacakan baginya satu nishab bacaan saya untuk menyelamatkan ibunya, di samping juga untuk mengetahui kebenaran mengenai kasyaf-nya. Maka, saya membacanya sebanyak 70.000 kali sebagai nishab yang saya baca untuk diri saya itu, guna saya hadiahkan kepada ibunya. Saya meyakini dalam hati bahwa ibunya pasti selamat. Tidak ada yang mendengar niat saya ini kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah beberapa waktu, pemuda tersebut berteriak, “Wahai paman, wahai paman, ibu saya telah bebas dari api neraka.”

Dari pengalaman itu, saya memperoleh dua manfaat: Pertama, saya menjadi yakin tentang keutamaan membaca Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, karena sudah terbukti kebenarannya. Kedua, saya menjadi yakin bahwa pemuda tersebut benar-benar seorang ahli kasyaf.”[3]

Bahaya Besar dalam Kisah Ini:

  1. Perbuatan Syirik kepada Allah Rabbul ‘alamin

Kesyirikan dalam kisah di atas adalah klaim mengetahui ilmu ghaib yang mereka namakan kasyaf, bahkan dapat mengetahui keadaan seseorang apakah masuk surga atau neraka, padahal telah dimaklumi bersama bahwa hal itu termasuk perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” [An-Naml: 65]

Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya:

يقول تعالى آمرًا رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقول معلمًا لجميع الخلق: أنه لا يعلم أحد من أهل السموات والأرض الغيب. وقوله: { إِلا اللَّهَ } استثناء منقطع، أي: لا يعلم أحد ذلك إلا الله، عز وجل، فإنه المنفرد بذلك وحده، لا شريك له، كما قال: { وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ } الآية [الأنعام: 59]، وقال: { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [لقمان: 34]، والآيات في هذا كثيرة

“Allah ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengajarkan kepada seluruh makhluk, bahwasannya tidak ada satupun penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib. Dan firman Allah ta’ala, “(Tidak ada penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib) keuali Allah” adalah sebuah pengecualian yang terputus, yaitu bermakna: Tidak ada satupun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya Dia esa dalam perkara ilmu tentang yang ghaib, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” [Al-An’am: 59]

Dan juga firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Luqman: 34]

Dan ayat-ayat tentang ini masih banyak.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/207]

Dari penjelasan di atas maka jelaslah bahwa ilmu tentang perkara ghaib adalah suatu kekhususan bagi Allah ta’ala, sehingga jika ada makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib berarti dia telah menyamakan dirinya dengan Allah ta’ala.

Demikian pula apabila seseorang meyakini ada selain Allah ta’ala yang mengetahui perkara ghaib berarti dia telah menyamakan Allah ta’ala dengan orang tersebut. Inilah hakikat kesyirikan, yaitu menyamakan Allah ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah ta’ala.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menghukumi kafir terhadap orang yang mempercayai ucapan dukun dan peramal tentang perkara ghaib yang akan terjadi di masa depan, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:

من أتى عرافًا أو كاهنًا، فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu dia membenarkan ucapannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu’alaihi wa sallam-.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 3047]

Adapun sebagian perkara ghaib yang disampaikan oleh para Rasul -baik Rasul dari kalangan manusia maupun malaikat yang diutus untuk menyampaikan wahyu- maka itu bukanlah suatu ilmu yang dapat mereka ketahui sendiri melainkan itu adalah ilmu yang Allah ta’ala wahyukan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“(Dia adalah Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya” [Al-Jin: 26-27]

Jadi, sebagian ilmu ghaib yang diketahui oleh makhluk adalah kekhususan bagi sebagian makhluk saja, yaitu para Rasul, bukan manusia biasa. Itupun mereka dapatkan melalui wahyu, bukan karena suatu amalan khusus, seperti dzikir tertentu dengan jumlah tertentu dan cara tertentu sebagaimana dalam kisah Jama’ah Tabligh di atas.

Sehingga para Rasul tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah ta’ala wahyukan kepada mereka, maka kita tidak boleh meyakini para Rasul mengetahui perkara ghaib sebagaimana Allah ta’ala mengetahuinya. Bahkan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam secara khusus diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk mengabarkan kepada manusia bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.” [Al-A’rof: 188]

Inilah salah satu bentuk kesyirikan yang diajarkan oleh Jama’ah Tabligh. Dan diantara bahaya perbuatan syirik adalah menghapuskan seluruh kebaikan yang pernah diamalkan oleh pelakunya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu menyekutukan Allah, niscaya terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar: 65]

Maka melalui tulisan ini kami nasihatkan kepada Jama’ah Tabligh secara khusus dan kaum muslimin secara umum untuk meninggalkan jama’ah yang mengajarkan kesyirikan ini dan berhati-hati darinya.

Adapun bahaya syirik lainnya dan bentuk-bentuknya dapat dilihat dalam artikel berikut:

  1. Perbuatan Bid’ah dalam Agama

Ulama seluruhnya sepakat[4] bahwa ibadah tidak dianggap syah apabila tidak memenuhi dua syarat:

Pertama: Ikhlas karena Allah ta’ala.

Kedua: Meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Penjelasan syarat  syahnya ibadah lebih detail dapat dilihat pada artikel:

Maka tidak cukup dalam ibadah hanya dengan modal ikhlas saja, tetapi harus disertai dengan peneladanan terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga apabila seseorang beribadah kepada Allah ta’ala dengan niat yang ikhlas namun tidak meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka tidak diterima amalannya, sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Inilah bahaya perbuatan bid’ah dalam agama, yaitu tertolaknya amalan bid’ah karena tidak meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sangat mengherankan, Jama’ah Tabligh yang katanya mau meneladani dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum, ternyata dakwah mereka sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan teladan para sahabat radhiyallahu’anhum.

Dalam kisah di atas, terdapat beberapa bentuk bid’ah:

1)     Membaca Laa ilaaha illallah dalam satu nafas.

2)     Menentukan jumlah dzikir 200 kali.

3)     Menentukan jumlah dzikir 70.000 kali.

4)   Berdzikir untuk orang lain (sebagai hadiah), baik yang masih hidup maupun sudah mati.

5)   Menetapkan keyakinan dan amalan tanpa berdasarkan dalil, tetapi melalui kasyaf yang syirik.

Ini semuanya bid’ah, tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum.

Adapun bahaya perbuatan bid’ah dapat dilihat pada artikel Peringatan dari Bahaya Bid’ah.

Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/08/01/peringatan-dari-bahaya-bid’ah/

Jika amalan terhapus karena syirik dan tertolak karena bid’ah, maka apa yang bisa diharapkan dari jama’ah yang mengajarkan syirik dan bid’ah ini!?

Demikianlah, apabila dakwah tidak dilandasi dengan ilmu maka kerusakannya lebih besar dibanding kebaikannya, bahkan yang lebih parah lagi, ketika mereka berbuat kerusakan mereka anggap sedang melakukan perbaikan.

Semoga pembahasan ringkas ini dapat menjadi renungan bagi Jama’ah Tabligh dan seluruh kaum muslimin.

Wallahul Muwaffiq.


[1] Nishab artinya bahagian

[2] Ahli kasyaf adalah seseorang yang mampu melihat segala hal ghaib, karena hijab telah diangkat darinya. Begitulah anggapan mereka, namun hakekatnya semua itu adalah bohong belaka.

[3] Kisah dan catatan kaki dinukil melalui perantara sebuah tulisan yang berjudul Kitab Fadha`il Al-A’mal dalam Timbangan As-Sunnah karya Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi hafizhahullah di majalah Asy-Syari’ah.

[4] Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 115 pada syarah hadits kelima.

http://nasihatonline.wordpress.com/

About these ads
Komentar
  1. Abi wildan mengatakan:

    Assalam mu alaikum wr wb itu kan menurut pemahan nt yg sangat keliru menurut ana, ana kenal dng JT sdh -+15th yg lalu ana rasa selama itu tdk ada kesyirikan dlm amalaman kmi malah kami JT selalu belajar untuk menanamkan ketauhidan dlm kehidupan kami sehari2 masalah bid ah selama 15thn saya rasa apa yg kami lakukan tdk bertentangan dengan perintah ALLAH dan SUNAH NABI wasalam

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Wa’aalikumussalam warohmatullohi wabarokatuh

      YANG BENAR!! Bukan menurut pemahaman ente ataupun ana, tapi marilah kembali kepada pemahaman terbaik umat ini, yakni ISLAM YANG TELAH DIAJARKAN OLEH NABI KEPADA PARA SAHABAT-NYA (SALAFUSHOLEH)

      Silahkan didengarkan : [Download] Pembahasan Mengenai Wali, Sufi, dan Jama’ah Tabligh

      Dengan ilmu yang shohih insyAlloh kita akan mengetahui mana tauhid mana syirik, mana sunnah mana bid’ah, dll

    • abdul rosid mengatakan:

      rosululloh saw.adalah orang yg kasyaf beliau pernah mendengar suara terompah bilal ra.yg sudah berada didalam surga…begitu jg sahabat ra. yg banyak sekali diberikan kasyaf oleh Alloh swt..perlu banyak lg belajar hadist..hadist di baca semua jangan yg hanya sesuai nafsu antum pake,yg ga sesuai dengan glongan antum ga dipakai….semua yg antum ceritakan..itu tdk bisa jd dasar menyesatkan jt..kalo antum pengen tahu tentang jt yg sebenarnya jgn pd org yg baru belajar..tp tanyakan pada ahlinya…ustad lutfi misalnya..atau ulama yg lain mash banyak..didalam jt..

      • abuyahya8211 mengatakan:

        Semoga Alloh menetapkan hati kita untuk senantiasa condong kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafusholeh, karena memang jalan keselamatan ada pada mereka, terlebih pada fitnah iftiroq/ perpecahan pada zaman ini.

        Kami tidak mengingkari bahwa pada firqoh ini terdapat banya kebaikan, akan tetapi penyelisihan mereka pada manhaj yang ditempuh oleh generasi terbaik umat ini sudah cukup mengeluarkan mereka/ JT dari lingkaran ahlus sunnah (secara glogal, bukan ta’yin orang perorang). Begitupula ketika para Ulama membantah dan menyingkap kesesatan firqoh ini, memang sengaja tidak menyebutkan kebaikan2 firqoh itu, dalam rangka memalingkan manusia dari kesesatan2 yang ada pada mereka. Demikianlah manhaj para Ulama dari zaman ke zaman ketika mentahdzir kelompok yang menyimpang.

        Wahai saudaraku seiman..
        Terkadang kebenaran itu terasa manis, tetapi tidak jarang kebenaran itu terasa sangat pahit. Kita hanya bisa berdo’a, semoga Alloh Subhanahu Wata’ala senantiasa melapangkan hati2 kita untuk menerima kebenaran dalam kondisi apapun. AAMIIN…

      • abu lila mengatakan:

        yang dilakukan Rasulullah bukanlah kasyaf tapi wahyu yang diwahyukan..
        “Ucapannya itu tiada lain hanyalah
        wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (qs.
        AL-Najm: 3-4) Allahualam..

      • abuyahya8211 mengatakan:

        Na’am akhi..

        Jazakallohu khoiron atas komentarnya

  2. awie mengatakan:

    Assalamu ‘alaykum,..
    @ Abi wildan
    dulu saya juga seorang karkun, alhamdulillah skarang udah gk lagi, setelah saya dengerin terus kajian kajian di radio rodja 756 am alhamdulillah Allah kasih saya hidayah, saya skarang udah gk jadi karkun,dan saya udah enggak mau lagi ikut jamaah tabligh,. ywdh gitu ja ya abi wildan saya mau ke http://www.radiorodja.com dulu, saya mau download kajiannya ustad yazid bin abdul qodir jawaz,.

  3. yudi mengatakan:

    saya mohon…..wahai saudara saudaraku janganlah saling mencela,ini hanya membuat perpecahan diantara kita,malu kita sama orang kafir

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Benar sekali wahai saudaraku…
      JANGANLAH KITA SALING MENCELA, TERLEBIH APABILA CELAAN ITU BERAWAL DARI PERKARA DUNIA.

      Sebaliknya, marilah kita saling nasehat-menasehati dan mengingatkan agar kita kembali pada jalan yang lurus, dengan senantiasa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafusholeh.

      Marilah kita senantiasa berdo’a memohon keistiqomahan diatas HJIDAYAH ISLAM DAN SUNNAH. AAMIIN…

  4. ahmad zubair mengatakan:

    masya ALLAH,CUMA ITU AJA YG DIBAHAS,BGMN DGN HADITS2 YG LAIN,BGITU BNYAK KBAIKAN2 YG ADA DLM KITAB FADHILAH amal,fadilah solat berjamaah,fadilah bc qur’an dan masih banyak lg ,SBENARNYA YG BAHAS INI GA SADAR DGN DIRINYA BGITU BNYAK KBURUKAN YG ADA PADANYA,SHINGGA KBURUKAN ORang saja diperhatikan,antum sdh buka di you tube,alamat go jamaah tabligh,bgitu banyak org papua masuk islam asbab rombongan jamaah ini dikirim ksana,cb buka dan liat,apakah berani org sperti antum yg buat blog ini,kepedalaman dimana mreka tdk punya agama,khidupan yg primitip,antum hny diinternet ,mnyesatkan org,spertinya antum dangkal skali ilmunya,sperti apapun usaha antum dakwah tabligh tetap berjln dan tsebar kseluruh dunia,krn usaha yg antum buat u/mnyadarkan manusia sdh salah’,NABI MENDATANGI UMMAT TDK DIINTERNET’INI JLS BID’AH NYA.SLAMA INI BGITU BANYAK TERSEBAR MLALUI TULISAN diinternet,buletin2,buku2mnyesatkan jamaah tabligh.,tapi anehnya org2 tambah yakin dgn ini dakwah,sadarlah

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Semoga Alloh menetapkan hati kita untuk senantiasa condong kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafusholeh, karena memang jalan keselamatan ada pada mereka, terlebih pada fitnah iftiroq/ perpecahan pada zaman ini.

      Kami tidak mengingkari bahwa pada firqoh ini terdapat banya kebaikan, akan tetapi penyelisihan mereka pada manhaj yang ditempuh oleh generasi terbaik umat ini sudah cukup mengeluarkan mereka/ JT dari lingkaran ahlus sunnah (secara glogal, bukan ta’yin orang perorang). Begitupula ketika para Ulama membantah dan menyingkap kesesatan firqoh ini, memang sengaja tidak menyebutkan kebaikan2 firqoh itu, dalam rangka memalingkan manusia dari kesesatan2 yang ada pada mereka. Demikianlah manhaj para Ulama dari zaman ke zaman ketika mentahdzir kelompok yang menyimpang.

      Wahai saudaraku seiman..
      Terkadang kebenaran itu terasa manis, tetapi tidak jarang kebenaran itu terasa sangat pahit. Kita hanya bisa berdo’a, semoga Alloh Subhanahu Wata’ala senantiasa melapangkan hati2 kita untuk menerima kebenaran dalam kondisi apapun. AAMIIN…

  5. awas hati-hati dengan jamaah yg satu ini…..

  6. Elissa Kusnadi mengatakan:

    coba ikut mereka keluar barang 3 hari, lihatlah adakah amalan yg menyimpang dr Qur’an dan sunah rasul yg mereka lakukan. wahai orang2 alim yg paling ngerti soal agama, cobalah sekali waktu berdakwah di arena sabung ayam, tempat pemuja kuburan, kampung preman dll, jadikan diri2 kalian jalan hidayah bagi mereka yg masih dalam kegelapan. jangan cuma dakwah pada orang yg sdh ngerti agama (sdh mau ndengerin ceramah di masjid).

    • abuyahya8211 mengatakan:

      Fatwa Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan telah ditanya :

      Apakah pendapat syeikh tentang orang yang keluar (khuruj) bersama jama’ah tabligh, dalam waktu sekian hari & sekian hari . . . ?

      Jawab:

      Khuruj (keluar) di jalan Allah, bukanlah khuruj yang mereka maksudkan sekarang. Khuruj (keluar) di jalan Allah adalah keluar untuk berperang. Adapun apa yang mereka namakan dengan khuruj itu, sesungguhnya ini adalah bid’ah yang tidak pernah datang dari salaf. Seorang keluar untuk berdakwah kepada Allah, tidaklah dibatasi pada hari-hari tertentu, akan tetapi berdakwah kepada Allah sesuai dengan kesempatan dan kemampuannya, tanpa harus terikat dengan jamaah atau terikat dengan empat puluh hari atau kurang atau lebih. Dan begitu juga, di antara yang wajib atas seorang dai, ia haruslah mempunyai ilmu, seseorang tidak boleh berdakwah kepada Allah sedangkan ia bodoh (tidak berilmu), Allah berfirman : Artinya : “Inilah jalanku, yang aku mengajak kepada Allah di atas pengetahuan” Yaitu atas ilmu, karena seorang dai mesti mengetahui apa yang akan didakwahinya, berupa hukum-hukum yang wajib, yang sunat, yang haram dan yang makruh. Dia harus mengetahui apa itu syirik, maksiat, kekufuran, kefasikan, kemaksiatan. Dan harus mengetahui tingkat-tingkat pengingkaran, dan bagaimana cara mengingkari.

      Khuruj yang menyebabkan disibukan dari menuntut ilmu adalah perkara yang batil (salah), karena menuntut ilmu itu adalah fardu (kewajiban), dan ilmu itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan cara belajar, tidak akan didapatkan dengan cara ilham, ini merupakan khurafat sufi yang sesat, karena amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Dan tentu meraih ilmu tanpa belajar adalah angan-angan yang salah.

      (Dari kitab Tsalatsu Muhadharat fil Ilmi Wad Da’wah) (Dikutip dari terjemah Fatwa Syaikh Dr. Rabi Bin Hadi Al Madkhali, Edisi Indonesia Fatwa Ulama Seputar Jama’ah Tabligh, Penerjemah Abu Bakar, Penerbit Al Haura, terjemah Tsalatsu Muhadharat fil Ilmi Wad Da’wah)

  7. Arif Lewisape mengatakan:

    Seorang Ustadz berceramah dalam suatu pengajian di Masjid kami dan menyampaikan bahwa dakwah Islam harus menyentuh berbagai pihak, tidak hanya untuk kalangan Muslim tetapi juga di kalangan Non Muslim. Apalagi sekarang, Kristenisasi semakin bersimaharajalela maka patut bila Dakwah Islam itu disampaikan kepada penganut Kristen, dengan metode-metode tertentu seperti dialog dan sebagainya. Tetapi berselang dua hari kemudian, pada kesempatan hari Jum’at , Khatib yang kebetulan dari JT memberikan khutbah yang mengcounter isi ceramah tersebut dan mengatakan bahwa kita tidak perlu berdakwah kepada kaum Non Muslim tetapi dengan dakwah yang dilakukan, mari kita benahi ummat Islam terlebih dahulu. Ini fakta, bukan ngarang cerita. Menurut saya, pernyataan si Khatib anggota JT tersebut TELAH MENGINGKARI DAKWAH RASULULLAH SAW. Beliau Nabi saw sejak diutus sebagai RASUL ALLAH sampai wafatnya selalu berdakwah kepada kaum Non Muslim, dan tetap demikian di samping mengajar kaum Muslimin. Saya menilai pernyataan si Khatib anggota JT telah melakukan POENYESATAN DAN PENGINGKARAN terhadap nilai dan lingkup dakwah Islamiyah.